Tentang Kemisan Di Gontor Oleh Oky Rachmatulloh

Table of Contents
TENTANG KEMISAN

By oky rachmatulloh

Kamis adalah hari Istimewa bagi guru-guru Gontor. Bukan hari dibaginya gaji buat guru, karena memang tidak ada gaji di Gontor.Tapi  Karena hari itu mereka di mudahkan mendengarkan pidato pak Kyai yang sering kali begitu berharga dan bermakna, yang sayang untuk tidak dituliskan di Facebook.

Tentang Kemisan Di Gontor Oleh Oky Rachmatulloh
Tentang Kemisan Di Gontor Oleh Oky Rachmatulloh

Meskipun tentu saja perlu dipilah, mana yang buat konsumsi orang luar, dan mana yang untuk konsumsi sendiri.

Terkadang apa yang bapak Kyai sampaikan jauh kedepan bayangan kita, tapi terjadi kemudian. Persis seperti yang saya tuliskan via Facebook, itu kebanyakan ibarat cerita saja dulu, tapi jadi nasehat berharga saat ini.

Kedua adalah karena kamis adalah hari evaluasi bagi para Guru. Kesalahan-kesalahan Guru yang ditemukan selama mengajar akan dibongkar disini. Kesalahan-kesalahan akhlaqi yang entah darimana pak Kyai tahu begitu saja juga di buka disini.

Dari mulai Guru-guru yang suka jalan-jalab ke PO setiap hari sampai di Juluki Bupati Ponorogo. Sampai Guru yang beli nasi Goreng di perempatan jetis dan ketahuan. Semua di bongkar disini.

Terkadang diiringi teriakan keras dan tegas dari Pak Kyai. Diiringi tatapan mata yang penuh wibawa dari beliau yang sampai searang saya masih meridning membayangkannya.

Kalau Pak Kyai sudah berteriak, maka suasana selanjutnya pasti sepi. Bahkan sampai jarum jatuh pun terdengar.  Hukumannya dari mulai di skors tidak boleh mengajar, sampai di usir dari Pesantren karena kesalahannya fatal.

Kenapa dipilih hari kamis? Karena di hari itu, semua santri sedang mengkuti acara Muhadoroh (Latihan Pidato). Jadi apapun tindakan pimpinan Pondok kepada Guru, para santri tidak tahu. Kenapa? Untuk menjaga wibawa Guru. Wibawa ini begitu sangat amat dijaga di Gontor. Guru harus nampak tidak ada kesalahan di hadapan murid atau diminimalkan.

Jadi kesalahan yang dilakukan Guru itu diberikan ganjaran tidak dihadapan para murid. Karena wibawa dan kehormatan dewan guru harus di jaga di hadapan murid. Jika ada santri yang kebetulan jadi penjaga Rayon siang itu, maka akan segera diminta berpindah, agar kesalahan Guru itu, sekali lagi, tidak terdengar oleh mereka. Sebegitu menjaganya Gontor kepada wibawa guru itu.

Tentu tidak semuanya berakhir tegang. Ada kalanya Pak Kyai bercanda. Seperti ketika KH Abdullah Syukri masih sehat, disebuah pertemuan Guru beliau menyamampaikan bahwa Rambut beliau ini sudah memutih, tanda beliau sudah beranjak sepuh. Beda dengan ust Tarwichi, teman beliau sewaktu SD, itu rambutnya masih hitam, tapi kumisnya memutih.

Maka beliau bilang, kalau Ust Tarwichi itu putihnya rambut dimulai dari bawah. Tentu saja statemen beliau itu mengundang gelak tawa para Guru. Diwaktu kemisan pula diberikan penghargaan kepada Guru terbaik minggu itu. Wali kelas teladan minggu itu. Dan beberpa pengahrgaan lain. Tentu saja kemisan tidak haris berakhir dengan ketegangan bukan??

Kemisan adalah evaluasi, kemisan adalah momentum introspeksi, kemasan adalah momentum mawas diri. Di kemisan ada ketegasan, di kemisan pula ada canda dan tawa ringan…..

Post a Comment