Sendiri Menyusuri Semenanjung Damai Oleh Oky Rachmatulloh
Table of Contents
Bab XXIV (habis) novel bersambung satu senja di semenanjung damai
SENDIRI MENYUSURI SEMENJANJUNG DAMAI
By : oky rachmatulloh
Aku sedikit kesulitan seperti ini setiap kali mau menalikan dasi ke leher. Kalau disuruh memilih, aku lebih akan suka memakai dasi yang sudah langsung terpasang daripada menalikan sendiri seperti ini. Sudah berulang kali kucoba, tapi hasilnya tetap sama, berantakan.
“Sini aku talikan...Sudah 6 tahun di pondok masa bikin dasi aja ga bisa...” Kata Anton, dia baru tiba dari Aula, gedung pertemuan.
“He...he...Alhamdulillah...wis siap kabeh, Ton??” (sudah siap semua ton?)
“Yo uwis lah...kari ngenteni seliramu kuwi...jebule sik bingung nali dasi...” (ya sudah lah, tinggal nungu kamu, ternyata masih bingung menalikan dasi...)
Aku tersenyum sambil mengambil sepatu di tempatnya. Pagi ini acaranya adalah Yudisium Kelas enam. Hari ini akan ditentukan, para santri kelas enam ini akan ditempatkan dimana dalam pengabdiannya selama satu tahun. Hampir sama dengan wisudawan, kelas enam juga diwajibkan mengabdi terlebih dahulu sebelum mendapatkan ijazahnya.
Untuk para wisudawan, dua hari yang lalu sudah ditentukan tempat pengabdiannya. Agus Solahudin di Nurussalam 3, sedangkan Khairul Anwar di Nurussalam 5, aku sendiri ditentukan pengabdian di Nurussalam 1, tidak kemana-mana. Tetap disini.
“Kamu mau kemana, ton? Setelah pengabdianmu selesai?” tanyaku sambil memasang kaos kaki.
“Mungkin lanjut S-2, Raf...bisa ke Jogja atau Jakarta. Mumpung masih muda...”
“Kalau Heru? Nursidi?”
“Kalau Nursidi sih aku belum tahu mau kemana. Kalau Heru katanya mau nikah, dia kan sudah tunangan sama perempuan tetangga si Embah-nya dulu. Dulu temennya main waktu kecil ketika berkunjung ke rumah embahnya itu. Lha kok sekarang sudah dewasa tambah cantik..kata si Heru..Ya sudah tak nikahin aja, lha sudah kenal kok...” Kata Anton sambil menyerahkan dasinya
“Terim Kasih, Ton....”
Aku segera mengenakan dasi yang baru saja dililitkan oleh Anton itu. Pagi ini seluruh pembimbing kelas enam diminta berkumpul. Karena ini adalah juga hari terakhir bagi kelas enam di Pesantren, bisa jadi mereka tidak akan bertemu lagi dengan pembimbing mereka setalah ini. Maka itulah maka seluruh pembimbing kelas enam diminta untuk berkumpul bersama pada hari ini.
“Raflie, setelah ini, kau kan masih disini?” Tanya Anton
Aku mengangguk
“Kau bakal jadi yang dituakan disini, Raf...Jadi pengawas ujian mahasiswa, jadi pengawas guru-guru baru mengajar, jadi pengawas ujian santri juga...” Anton tertawa
“ya, namanya juga wisudawan telat, ton...mau bagaimana juga diterima aja. Ya itung-itung pengalaman lah...”
Aku menghibur diri. Kata-kata Ust Mulyadi ketika memberiku kepastian ujian skripsi kembali melintas difikiranku.
“Yuk ah, Ton...kita berangkat. Sudah jam 07.00 ini, katamu teman-teman sudah pada nunggu...”
“Sebentar, aku tadi kesini mau buang air...tadi pas sahur kebanyakan minum teh..” Kata Anton sambil pergi ke kamar mandi.
Yudisium kelas enam di Nurussalam memang dilakukan di Bulan Ramadhan. Karena tahun ajaran barunya dimulai pada bulan Syawwal. Aku segera mengenakan Jas pemberian kelas enam. Sebuah setelan jas wana abu-abu yang membuatku serasa jadi pengantin saja.
“Yuk Ah, Raflie...” Anton keluar dari kamar mandi. Aku segera keluar kamar menuju ke motor yang Anton bawa dari rumahnya.
Kami berdua menuju ke Gedung Saudi. Tempat dilaksanakannya yudisium. Tempat ini, gedung saudi ini dan Pohon Mangga disebelah gedung pertemuan setahun yang lalu pernah menjadi ajang tangis bagi kelas lima yang tidak naik kelas. Maka mereka yang tidak naik kelas itu sering disebut para korban pohon mangga. Dizaman aku dulu kelas enam, dari 900 kelas lima, Cuma 700 ratusan yang naik. Karena itulah banyak nian korban-korban pohon mangga ini.
“Nih dia ni...penerus kita..he...he...gimana nih Ustadz Senior Nurussalam??” Harun menyambutku dengan tawa lepasnya. Dia sudah menyelsaikan pengabdian S-1, tahun ini dia bisa keluar.
Aku tersenyum. Sebagai mahasiswa yang wisuda belakangan, bersiaplah untuk dibully.
“Ente mau kemana, Run, Habis ini??” Kataku sambil mengambil posisi duduk.
“Aku mau ke Malaysia, Raf..bulan kemrin aku coba-coba daftar. Ternyata ada panggilan, ya memang masih bulan depan sih. Tapi aku mau segera kesana, sekaligus adaptasi di sana”
“Wah, sudah ada panggilan to? Hebat ente Run...lha terus si Faruq, temen ente tu kemana?”
“Dia sudah punya garapan...pesantren bapaknya kan perlu tenaga berbakat seperti dia...”
“Oh, sudah punya pesantren besar ya?”
“Ya lumayan lah...santrinya sudah mencapai 3000-an, laki-laki dan perempuan...Aku kemarin pernah diajakin kesana. Karena bapaknya juga alumni Nurussalam, jadi ya suasana yang terbangun mirip banget sama Nurussalam. Cuma bedanya disana membuka pendaftaran buat santriwati juga....”
Aku mengangguk-angguk, terlihat di kejauhan Anwar dan Agus berbincang serius. Aku mendatangi mereka berdua. Acara sudah dimulai, kelas enam dipanggil satu per satu. Biasanya panggilan pertama ini bagi yang akan mengabdi di Nurussalam 1.
“Serius amat gus? War? “ Aku menyalami mereka. Kali ini mereka tersenyum, biasanya cuma nyengir.
“Ya..membicaraka masa depan ini. Meskipun masih satu tahun lagi pengabdian. Anwar katanya mau coba melanjutkan ke mesir. Pendaftarannya masih 4 bulan lagi, jadi dia mau ngisi pengabdian dulu, baru kemudian coba minta izin ke pak Kyai untuk meneruskan kuliah di mesir....” Agus mnejelaskan
Anwar memang salah satu temanku yang cerdas. Ketika dia santri, dulu selalu duduk di kelas “B”. Kelas dengan kulitas terbaik dalam pendidikan di Nurussalam. Tapi enteh kenapa pas kuliah dia harus “tersandung” masalah yang sama dengan aku, Ushul Fiqih. Pantas kalau dia nampak haus sekali akan ilmu.
“Alhamdulillah...ente sendiri, Gus?”
“Lha kalau saya yo siap-siap saja langsung S-3 (baca : Estri), kan Nurussalam 3 itu sama Jombang deket. Jadi bisa di sambil nikah lah....ha..ha....”
“Agus udah ga betah Raflie, yang ada difikrannya perempuan terus....ya udah lah, biar dia nikah aja...” Anwar menambahkan masih sambil tertawa.
Aku tersenyum lebar. Mataku memandang ke arah gedung Saudi. Gedung yang penuh sejarah. Saat ini tengah menjadi saksi yang entah ke berapa kalinya kelas enam yang akan ditugaskan.
Sejenak aku mengalihkan pandanganku. Ada sepasang suami istri dengan dua anaknya sedang menunggu. Sang Bapak nampak kurus dengan baju batik, sedangkan sang Ibu berjilbab rapat dengan warna hijau teduh. Si Ibu ini, saya lihat berjalan dengan terpincang-pincang. Sesekali, si bapak nampak kerepotan mengatur dua putra-putranya yang lain yang sedang berkejar-kejaran. Si Ibu nampak menengok ke arahku, dia tersenyum.
Aku bertanya-tanya, siapa beliau berdua ini? Kenapa senyum mengartikan kalau si Ibu ini sudah mengenalku? Si Ibu lalu memanggil suaminya nampak menunjuk-nunjuk kepadaku. Sang Suami nampak memadangiku lalu mengangguk-angguk. Belau berdua kemudian mengarahkan langkah kakinya ke arahku.
Aku berdiri dari kursiku, lalu beranjak melangkah kaki menuju ke arah mereka berdua.
“Assalamualaikum Ust....” Sapa sang Ayah sambil mengukur tangan untuk bersalaman.
“Wa alaikum salam...Maaf, bapak dan ibu ini siapa ya?”
Sang Ibu tersenyum. Beliau memandang suaminya sejenak.
“Kami orang tua dari Wahyu, Ustadz..... Wahyu Adi Winarno....”
Otakku langsung bekerja mencari nama yang disebut di memorinya. Tidak butuh waktu lama. Its Found..!
“Oooh...Masya Allah...Masya Allah...bapak dan ibu ini dari Sulawesi?” Tanyaku.
Mereka berdua mengangguk.
Aku mengajak mereka untuk duduk di kursi kosong yang ada di sampingku.
“Kapan datang ke Nurussalam, ibu?”
“Sudah dua hari ini kami disini Ustadz, kemarin ketika kami menemui Wahyu, dia banyak bercerita juga tentang Nurussalam ini. Juga soal Ustadz. Bagaimana Ustadz sudah menasehati dia ketika ayahnya ini memukuli saya dulu. Semua dia ceritakan....” Si Ibu ini bercerita sambil tersenyum. Matanya memandang ke arah suaminya. Kebalikan dari istrinya, sang suami sama sekali tidak tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Sejurus kemudian dia berucap,
“Terima kasih atas nasehatnya Ustadz, saya merasa terpukul sekali ketika Wahyu menelopon saya. Dengan lemah lembut dia sampaikan bahwa dia hampir saja tergelincir untuk pergi ke Sulawesi untuk membunuh saya....Saya terhenyak, betapa anak saya sudah besar ternyata, sampai punya niat membunuh saya....” Suara sang bapak terputus. Sejenak berganti isakan.
Suasana hening sejenak.
“Wahyu mengatakan bahwa apa yang saya lakukan dia anggap sudah sangat keterlaluan...Saya akui Ust, saya dulu memang bukan orang baik. Saya penjudi ustadz, saya khilaf, saya sampai membuat kaki istri saya patah hanya gara-gara tidak mau menyerahkan sertivikat tanah yang dia miliki. Saya betul-betul lupa daratan, betul-betul lupa diri. Saya tidak pernah tahu bagaimana pengorbanan istri saya untuk menyelamatkan wahyu dari pengaruh saya. Wahyu dikirim ke Jawa, agar bisa belajar agama dan tidak melakukan apa yang selama ini saya sudah perbuat....” tangis si bapak pecah, tersedu-sedu
“...dan saya sama sekali tidak ikut membiayai wahyu ust..saya betul-betul tergoda judi, saya sama sekali tidak mempedulikan istri dan anak-anak saya..saya berdosa ust..saya bersalah....”
Sang ayah memelukku dalam tangsinya. Anwar dan Harun yang tanpa sengaja melihat kejadian itu mengernyitkan dahi, kemudian saling pandang. Aku yang salah tingkah. Untung Ibunya wahyu segera menarik tangan suaminya untuk tidak lama-lama memelukku...
“Bapak, masya Allah...bahagia rasanya melihat bapak saat ini sudah bersama-sama ibu dan adik-adiknya wahyu menjemputnya di saat bersejarah ini...” Aku berucap pelan
“ ...saya sangat bersyukur bapak sudah menyadari kesalahan bapak. Saya tidak tahu, apa yang akan diperbuat wahyu jika saat ini ayahnya belum menyadari kesalahannya. Alhamdulillah, Allah sudah sudah memberikan hidayahnya kepada bapak. Saya bukanlah orang yang menyadarkan bapak, Allah yang menyadarkan. Kalau bukan Allah, tidak akan mungkin saya atau siapapun melakukannya…”
Bapak itu mengusap matanya. Perlahan dia melepas pelukannya. Aku tersenyum melihatnya, sekali lagi bapak itu minta maaf, dia juga bercerita kalau biaya kenerangkatnnya ke sini diperoleh dari uang tabungan wahyu selama di Nurussalam. Dia begitu terharu, karena disaat di berjudi di sana, disini wahyu justru hidup sederhana sehingga mampu menabung untuk keberangkatannya.
Wahyu, saya kenal memang sebagai santri yang sederhana. Ketika teman-temannya ramai mengumpulkan uang untuk buka puasa, maka dia pasti membayar paling akhir, mungkin dia memperhitungakan dulu nilai patungan buka puasanya dengan nilai tabungannya. Dia juga dikenal teman-temannya sebagai santri yang jarang sekali jajan. Masya Allah, ternyata ini tujuannya…
“Raflie, ditunggu teman-teman buat foto bersama, Ayo..!” Agus memanggilku dengan suara keras.
Aku mengangguk. Lalu mohon pamit kepada orang tua wahyu. Keduanya melepasku dengan senyum. AKu segera bergabung dengan agus dan anwar menuju ke depan masjid. Dimana teman-teman yang lain sudah menunggu.
“Ayo, foto dulu depan masjid, habis ini kita bakalan susah ketemu. Ga semua di Jawa kan…” Syawaludin berpose sambil cengar-cengir.
“Ayo Gus, sudah dandan kaya pengantin gitu kapan nikahnya ente?” Nursidi bertanya
“ Lha aku ini pulang tinggal Qabiltu nikahahaa , kelar nur…Lha daripada ente, selesai kuliah, nunggu dulu sampai lumutan baru nikah…” Agus sewot menyahut
Kami semua tertawa, indah nian suasana pagi hari ini. Kami berjajar didepan tangga masjid tingkat dua itu. Tersenyum memandang matahari yang pagi itu begitu hangat menyinar bumi.Menatap gedung Aligarh, gedung yang begitu anggun itu seakan tersenyum dalam cerianya suasana pagi ini. Yah, gedung itu tersenyum menyaksikan santr-santri kelas enam Nurusalam telah menyelesaikan belajarnya sampai akhir. Mungkin juga tersenyum karena melihatku selesai diwisuda di ISIN.
Terihat dari jauh, anak-anak santri yang baru lulus itu berhamburan sambil berangkulan. Memancarkan kebahagiaan mereka. Aku menarik nafas panjang. Fikiranku terbang pada 6 tahun yang lalu. Disaat, aku masih seperti mereka. Waktu itu aku di panggil di Yudisium ini berdua, dengan Toha Nurhadiyan, sahabatku sesama orang Ponorogo. Aku sendiri tidak tahu, kenapa aku dipanggil berdua. Teman-temanku yang lain dipanggil banyak orang, tapi kami cuma berdua.
Terlihat dihadapan kami KH Syamsudin Basyir menatap kami dalam-dalam. Suara baritone beliau tegas berkata…
“Kalian ini santri Ponorogo, sekarang jadi Ust dari Ponorogo, kelak juga akan kembali ke Ponorogo. Di Pundak kalian inilah masa depan pesantren ini dititipkan. Kawan-kawanmu yang dari luar Ponorogo, tentu akaj kembali membangun daerahnya masing-masing. Berjuang di daerahnya masing-masing. Maka kalian sengaja saya tempatkan disini. Di Nurussalam ini. Biar kalian tahu dan mehahami, bahwa menjadi guru itu tidak semudah yang kalian bayangkan. Supaya kalian memahami arti sebuah tanggung jawab. Bahwa menjadi Guru itu tanggung jawabnya berat, dihadapan Allah dan manusia. Kalau kalian sukses mendidik santri-santri kalian, maka pahala kalian akan mengalir. Tapi kalau perbuatan kalian memberi contoh negative kepada santri kalian, maka rentetan dosa kalian akan dicintih oleh santri kalian, dan akan mengalir sebagaimana pahal jika kalian berbuta baik.
Kalian Ust dari Ponorogo. Juga harus memberi contoh yang baik kepada rekan-rekan kalian yang dari Ponorogo. Jangan malah ngajakin bikin nasi goreng
Eng mislanya. Itukan malah mengajari Guru-guru melanggar disiplin namanya….” Nasehat beliau membuat Guru-guru di sekitar beliau tertawa. Kami Cuma tersenyum kecil.
Kenangan yang tidak akan kulupa, aku membatin. Nurussalam ini, saya rasakan ketika aku jadi santri, sampai sekarang saya jadi Guru, selalu meninggalkan kenangan yang bermakna dalam hidupku. Dan sekarang kenangan itu sudah hendak tiba diujung, satu tahun lagi saya diminta berjuang di Nurussalam. Tidak terasa, saya menghabiskan 10 tahun hidupku di Pesantren ini.
Dari jauh terlihat anak-anak sudah saling rangkul, bersalam-salaman, dan tertawa-tawa. Aku tersenyum. Anak-anak ini baru saja menyelesaikan ujian akhir yang melelahkan itu. Sepertinya baru kemarin ujian kelas enam Nurussalam ini aku alami. Sebulan yang penuh konsetrasi, sebulan yang penuh perhatian, sebulan yang sulit melupakan. Ujian ini dimulai ketika kami dikarantina. Sebuah proses belajar total melepaskan semua tanggung jawab pesantren kepada adik-adik kelas lima. Kami dikumpulkan di Aula Nurussalam. Kami boleh teriak-teriak, boleh tegang-tegangan, boleh bertingkah asalkan semuanya dalam rangka belajar. Tidak boleh keluar, kecuali jadwal mandi, makan, dan Sholat. Tidurpun juga harus di Aula gedung pertemuan.
Selesai? Tentu saja belum, itu baru permulaan. Setelah itu ada amaliah, praktek mengajar, lalu dimulailah ujian lisan. Kami dipanggil dua orang-orang. Menghadapi Guru-Guru kami yang rata-rata S-2 dan S-3 lulusan luar negeri dan didampingi Guru pengajar kami yang S-1. Pertanyaanya semuanya berbahasa Arab dan Inggris. Materinya dari mulai Bahasa Arab dasar, Muthalaah (bacaan arab), Nahwu, Sharf, Mantiq, Balaghah, Reading, Grammar, Compostotion, Dictation, Kepondok modernan, Tarbiyah wa Ta’lim (Pendidikan dan Pengajaran), dan semua materi itu dimulai dari kelas satu sampai kelas enam…!!! 6 tahun kita belajar…semua di ujikan…semua dipersiapkan…
Baiklah, sudah selesai? Sama sekali belum. Tibalah kita pada puncak ujian ini. Ujian tulis yang betul-betul saya tidak akan pernah mau mengulanginya seumur-umur. Semua pelajaran, berbahasa Arab dan Inggris, dan 20% mata pelajaran berbhasa Indonesia. Dan semuanya ESAI…!! Tidak ada yang pilihan Ganda. Jadi harus dihapalkan, harus dimengerti, harus dikonsentrasikan, diluar kepala. Ini yang membuat saya strees. Saya yang setiap pagi selalu susu dan telor setengah matang, siang hari redoxon, dan malam hari konsumsi cerebrofit. Itu akhirnya ndak kuat, dihari ke 7 saya muntah. Badan saya panas meninggi. Mata saya sayu. Tapi saya memaksa diri untuk ujian, tau alasannya?? Tidak ada istilah ujian susulan di Nurussalam. Ga ikut ujian ya sudah..wassalam…ujian lagi tahun depan…
Suasana ujiannya? Kami duduk berdua dengan jarak 1-1,5 M. Diawasi oleh Guru-Guru senior yang semuanya lelaki..!! Dengan resiko berat yang harus kami tangung…NYONTEK DIUSIR..!!
Kalau melihat betap stresnya kami, boleh dikatakan kami lebih berhak untuk teriak-teriak sambil naik motor merayakan selesainya ujian kelulusan ini bukan? Kami tentu lebih berhak mencorat-coret baju kami sebagi tanda tuntasnya stress kami selama menempuh ujian bukan? Kami tentu lebih berhak berkeliling pondok dengan knalpot meraung-raung lalu merayakan selesainya ujian “gila” ini dengan penuh kemenangan??
Tapi…kami tidak merayakannya. Kami berjas dan berbaris rapi lalu menghadap kiblat, didepan masjid Nurussalam, kami bersujud bersama-sama mensyukuri bahwa ujian akhir telah selesai dan sudah kita lewati. Untuk kemudian menyalami teman kami satu per satu, sambil mengucap selamat berjuang…Sebab bisa jadi kita tidak akan pernah bertemu lagi. Karena memang kita akan dipisah jarak dan waktu, sambil beruntai air mata dan senyum kami ucapkan
Anak-anak mulai berkumpul di depan Aula pertemuan, seperti biasa, acara perpisahan ini akan dimulai dengan berziarah ke makam pendiri pesantren. Mereka akan berdoa disana, sambil mengenang perjuangan beliau dulu kala. Biasanya, dari sinilah nuansa haru itu bermula. Setelah itu mereka akan keliling pesantren, sambil melantunkan lagu “Oh Pondoku”. Melihat-lihat lagi satu-demi satu gedung tempat mereka menginap, hidup, mengatur dan diatur dalam waktu 24 jam. Melihat lagi bekas-bekas kenakalan mereka, tempat mereka sembunyi waktu sholat berjamaah di masjid, bersembunyi ketika ada lari pagi atau pramuka. Lalu kedapur umum, tempat mereka makan malam, atau makan bersama secara sembunyi-sembunyi, karena jika ketahuan ustadz mereka tentu akan di botakin.
Disini biasanya tangis akan semakin deras. Apalagi melihat Ibu-ibu pengelola dapur tersenyum melihat mereka. Ingatan mereka akan dibawa masuk ke relung ingatan akan sebuah sambal dengan kualitas “legendaris”. Kami menyebutnya “Salatoh Roha” (Sambal Istirahat). Sebuah sambal yang hanya ada pada saat jam Istirahat. Itu disediakan bagi para santri yang kehabisan lauk, sehingga Cuma dberikan sambal dengan kerupuk. Sambalnya biasa, Cuma cabe, bawang putih, bawang merah, gula dan garam, tapi rasanya itu yang susah dilupakan. Mungkin karena lapar juga, sehiangga rasanya jadi lezat sekali. “Salatoh Roha” ini pasti akan jadu kenangan yang tak terlupakan.
Terdengar sayup-sayup lagu “oh pondokku” mendekat. Kami semua, para wali kelas berdiri. Sebentar lagi mereka akan membuat lingkaran besar, untuk mengucap kata-kata perpisahan kepada teman-teman dan kepada pondoknya. Tentu saja juga kepada kami para wali kelas. Nampak dari kejauhan, Fuad ketua angkatan tahun ini sudah berkali-kali mengusap pipinya. Matanya merah. Dia nampak sedih. Fahmi, rekan yang berdiri disampingnya malah sesenggukan sambil berurai air mata. Saat-saat itu tba juga akhirnya. Kembali mataku tetuju kepada tulisan di gedung Aligarh “Ke Nurussalam, apa yang Kau cari”, semga anak-anak ini berhasil menemukan apa yang selama ini mereka cari.
Setelah semua berkumpul, kami sepakat untuk melupakan status kami sebagai ustadz dan santri. Kami bersama-sama menyatukan diri atas nama Blitza Remigion. Nama angkatan kelas enam tahun ini. Kami berangkulan bersama, lebur dalam dalam tangis perpisahan antar saudara. Satu persatau aku pandangi para santri kelas enam ini, semuanya matanya merah. Semua kenangan tertumpah hari ini, semua emosi meluap hari ini. Sekilas nampak Anwar menangis tersedu-sedu, berangkulan erat dengan Syawaludin yang juga tengah terisak. Aku sendiri tidak mampu lagi menahan air mata ini untuk tidak menetes. Suasana telah membawaku untuk ikut serta tenggelam dalam nuansa keharuan hari ini.
Lalu nampak dua orang santri maju kedepan, dengan penuh perasaan mereka menyanyikan lagu tentang kisah mereka di Nurussalam. Lalu satu diantara mereka membacakan puisi tentang cerita itu ditengah-tengah lagu. Puisi yang indah. Berkisah tentang cerita mereka 4 atau 6 tahun yang lalu. Mereka menjadi santri baru, yang polos , yang masih lugu. Belajar semua hal tentang pesantren, tentang cara belajarnya, cara makannya, cara berbahasanya, cara pidatonya dan yang lain. Lalu tiba ketika mereka menjadi anak lama, yang sok tahu didepan anak baru, sok menguasai Pesantren, sok menyalah-nyalahkan Guru, Sampai kemudian para santri tiba dikelas lima,sebagai pengurus asrama, pengurus organisasi pelajar, dan kemudian tiba di kelas enam. Sebagi “penguasa” pesantren dan tangan kanan bagian pengasuhan santri, lalu tiba saatnya perpisahan ini. Puisinya pas, pemilihan katanya tepat, satu persatu anak-anak hening dalam tangis, ada yng mulai jatuh pingsan.
Kemudian anak-anak silih berganti mengungkapkan kesannya di Nurussalam ini, ada yang mengharukan, menggelikan, bahkan ada yang seperti marah-marah, tapi semua itu justru bermuara kepada satau kesimpulan, semua memori ini, tak akan pernah terlupakan.
Terakhir kami semua menghadap kearah kiblat, lalu dengan penuh kesyukuran kami angkat kedua tangan kami, lalu bersujud syukur bersama-sama. Kami letakkan kepala kami diatas tanah. Ya Allah, kami benamkan setetes ilmu kami ditengah gelombang lautan luas ilmumu yang tak terbatas. Kami berharap ilmu ini manfaat ya Allah.
Ditengah panas matahari Ramadhan kami tertunduk dalam-dalam. Semua terdiam dalam bisu tanpa kata. Ingatan-ingatan kami semua terbetot kepada satu pusaran, semua yang bercerita tentang kenangan di Nurussalam. Mata kami kembali basah, menginbat bagaimana santri-santri ini dulu menangis ketika ditinggal orang tuanya, menangis ketika dihukum, menangis ketika sakit, dan sekarang semua betul-betul jadi kenangan manis. Mereka sudah dewasa, bahkan sudah siap dilepas di medan perjuangan pengabdian.
Acara siang itu hampir berakhir, ditutup dengan acara salam-salaman perpisahan dengan teman dan kami para wali kelas. Inilah puncak acaranya. Mereka bersalaman satu per satu, dengan teman sekamar, teman se asrama, teman sekelas, teman akrab satu kelompok sepak bola, mereka menuntaskan tangis mereka di acara ini.
“Ust…maafkan kami ust…kami yang sudah bikin antum sakit hati karena ulah kami..maafkan ust..”.
“Ust, mohon doa ust, semoga kami bisa berjuang di tempat pengabdian kami..”
“Sampai jumpa ust, semoga Allah mempertemukan kita kembali…maaf jika kami ada kesalahan kepada antum…”
Bertubi-tubi ucapan-ucapan senada diucapkan kepada kami ketika mereka bersalaman dengan kami. Kamipun tak kuasa menjawab, Cuma anggukan dan senyuman yang mampu kami berikan di hari perpisahan itu. Hari itu kami tak kalah harunya. Syawal yang biasanya senang bergurau juga nampak merah dan basah matanya. Anwar yang paling mengharukan, dia nampak tersedu-sedu menerima salamn dari para lulusan di tahun ini.
Wahyu nampak menghampiriku, lalu dengan tangis tertahan dia cium tanganku dan diegangnya dengan erat. Dia tak kuasa menahan, dia menangis penuh ditanganku.
“Ust…terma kasih atas egala nasehat antum ust, antum sudah memberikan harapan itu kepada saya, kepada keluarga saya, antum telah menyelamatkan nyawa bapak saya, antum menyelamatkan saya dari kedurhakaan yang tidak terampun…hanya terima kasih ust..saya tidak mampu membalas..” Isaknya.
Aku menggeleng…
“…bukan wahyu, bukan saya…tapi Allah yang maha membolak-balikkan hati yang merubah semuanya, Allah yang menyelamtkan ayahmu, Allah yang sudah merubah niatmu..Allah..bukan saya…” sekuat tenaga saya tahan biar saya tidak ikut menangis.
“….iya ustadz…iya…”
Perlahan kulepaskan tanganku dari pelukannya. Wahyu memandangiku, kulihat matanya kuyup. Dia tersenyum lalu mohon didoakan, aku menangguk,
“Insya Allah manfaat ilmumu nak…” kuelus kepalanya. Lalu satu persatu para alumni baru ini menyalami kami, ada yang memeluk kami dengan tangis. Ritual tahunan yang mengesankan.
Setelah selesai semua proses salam-salaman, para lulusan itupun bergabung dengan orang tua mereka. Mereka segera berkemas untuk kemudian berangkat pulang ke kampong halaman masing-masing, meninggalkan kisah indah di Nurussalam. Terlihat Syawaludin Anwar dan Farouq juga bersiap naik bis. Mereka memang pulang berbarengan dengan para wali santri yang tidak membawa kendaraan sendiri, mereka naik Bus.
“….Raflie, selamat jaga kampus ya..tenang, satu tahun itu tidak lama, tahun depan kau juga akan pulang juga…tapi ente pulang kemana? Lha rumah ente di Ponorogo juga..ha…ha…” Syawal mulai menggodaku, keharuannya hilang. Aku tersenyum kecut.
“Syawwal..salam ke penunggu sungai Musi ya..” ujarku sambil ketawa
Syawwal membalasnya dengan tersenyum. Lalu satu demi satu mobil dan bus meninggalkan pesantren ini. Menjelang sore, pesantren ini kembali sepi. Hanya kelas lima yang menunggu Yudisium naik kelas enam yang nampak. Anton sudah pulang baru saja, tinggal aku sendiri. Aku berjalan menuju gedung satelit, kamarku. Kulewati Nurusalam FM, Dapur Guru, Gedung Saudi, Gedung Asia, sayup-sayup terdengar bacaan Al-quran dari masjid pesantren. Sebentar lagi adzan magrib berkumandang. Sesaat terbayang bagaimana Ayah dan kedua adikku berbuka puasa sore ini. Biasanya dengan Ibu, tapi tahun ini ibu sudah tiada. Tiba-tiba ada rasa kangen di hatiku.
Aku menengok kebelakang. Nampang Masjid Nurussalam berdiri tegak memandangiku. Seakan mengatakan bahwa dia sedia menerimaku dan para alumni yang lain, kapanpun kita mau datang. Aku menatapnya dalam-dalam. Masa itu akan datang, dimana kehidupanku akan berubah, aku mungkin sudah tidak di Nurussalam lagi, sudah punya keluarga sendiri, sudah punya kehidupan sendiri, tapi Nurussalam tidak akan hilang dihati.
Meski saat ini, aku memang sendiri. Disaat kawan-kawanku seangkatan sudah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dalam fase kehidupannya. Tahun ini aku masih disini, sendiri menyusuri semenanjung damai…Nurussalam…
TAMMAT
SENDIRI MENYUSURI SEMENJANJUNG DAMAI
By : oky rachmatulloh
Aku sedikit kesulitan seperti ini setiap kali mau menalikan dasi ke leher. Kalau disuruh memilih, aku lebih akan suka memakai dasi yang sudah langsung terpasang daripada menalikan sendiri seperti ini. Sudah berulang kali kucoba, tapi hasilnya tetap sama, berantakan.
![]() |
| Sendiri Menyusuri Semenanjung Damai Oleh Oky Rachmatulloh |
“Sini aku talikan...Sudah 6 tahun di pondok masa bikin dasi aja ga bisa...” Kata Anton, dia baru tiba dari Aula, gedung pertemuan.
“He...he...Alhamdulillah...wis siap kabeh, Ton??” (sudah siap semua ton?)
“Yo uwis lah...kari ngenteni seliramu kuwi...jebule sik bingung nali dasi...” (ya sudah lah, tinggal nungu kamu, ternyata masih bingung menalikan dasi...)
Aku tersenyum sambil mengambil sepatu di tempatnya. Pagi ini acaranya adalah Yudisium Kelas enam. Hari ini akan ditentukan, para santri kelas enam ini akan ditempatkan dimana dalam pengabdiannya selama satu tahun. Hampir sama dengan wisudawan, kelas enam juga diwajibkan mengabdi terlebih dahulu sebelum mendapatkan ijazahnya.
Untuk para wisudawan, dua hari yang lalu sudah ditentukan tempat pengabdiannya. Agus Solahudin di Nurussalam 3, sedangkan Khairul Anwar di Nurussalam 5, aku sendiri ditentukan pengabdian di Nurussalam 1, tidak kemana-mana. Tetap disini.
“Kamu mau kemana, ton? Setelah pengabdianmu selesai?” tanyaku sambil memasang kaos kaki.
“Mungkin lanjut S-2, Raf...bisa ke Jogja atau Jakarta. Mumpung masih muda...”
“Kalau Heru? Nursidi?”
“Kalau Nursidi sih aku belum tahu mau kemana. Kalau Heru katanya mau nikah, dia kan sudah tunangan sama perempuan tetangga si Embah-nya dulu. Dulu temennya main waktu kecil ketika berkunjung ke rumah embahnya itu. Lha kok sekarang sudah dewasa tambah cantik..kata si Heru..Ya sudah tak nikahin aja, lha sudah kenal kok...” Kata Anton sambil menyerahkan dasinya
“Terim Kasih, Ton....”
Aku segera mengenakan dasi yang baru saja dililitkan oleh Anton itu. Pagi ini seluruh pembimbing kelas enam diminta berkumpul. Karena ini adalah juga hari terakhir bagi kelas enam di Pesantren, bisa jadi mereka tidak akan bertemu lagi dengan pembimbing mereka setalah ini. Maka itulah maka seluruh pembimbing kelas enam diminta untuk berkumpul bersama pada hari ini.
“Raflie, setelah ini, kau kan masih disini?” Tanya Anton
Aku mengangguk
“Kau bakal jadi yang dituakan disini, Raf...Jadi pengawas ujian mahasiswa, jadi pengawas guru-guru baru mengajar, jadi pengawas ujian santri juga...” Anton tertawa
“ya, namanya juga wisudawan telat, ton...mau bagaimana juga diterima aja. Ya itung-itung pengalaman lah...”
Aku menghibur diri. Kata-kata Ust Mulyadi ketika memberiku kepastian ujian skripsi kembali melintas difikiranku.
“Yuk ah, Ton...kita berangkat. Sudah jam 07.00 ini, katamu teman-teman sudah pada nunggu...”
“Sebentar, aku tadi kesini mau buang air...tadi pas sahur kebanyakan minum teh..” Kata Anton sambil pergi ke kamar mandi.
Yudisium kelas enam di Nurussalam memang dilakukan di Bulan Ramadhan. Karena tahun ajaran barunya dimulai pada bulan Syawwal. Aku segera mengenakan Jas pemberian kelas enam. Sebuah setelan jas wana abu-abu yang membuatku serasa jadi pengantin saja.
“Yuk Ah, Raflie...” Anton keluar dari kamar mandi. Aku segera keluar kamar menuju ke motor yang Anton bawa dari rumahnya.
Kami berdua menuju ke Gedung Saudi. Tempat dilaksanakannya yudisium. Tempat ini, gedung saudi ini dan Pohon Mangga disebelah gedung pertemuan setahun yang lalu pernah menjadi ajang tangis bagi kelas lima yang tidak naik kelas. Maka mereka yang tidak naik kelas itu sering disebut para korban pohon mangga. Dizaman aku dulu kelas enam, dari 900 kelas lima, Cuma 700 ratusan yang naik. Karena itulah banyak nian korban-korban pohon mangga ini.
“Nih dia ni...penerus kita..he...he...gimana nih Ustadz Senior Nurussalam??” Harun menyambutku dengan tawa lepasnya. Dia sudah menyelsaikan pengabdian S-1, tahun ini dia bisa keluar.
Aku tersenyum. Sebagai mahasiswa yang wisuda belakangan, bersiaplah untuk dibully.
“Ente mau kemana, Run, Habis ini??” Kataku sambil mengambil posisi duduk.
“Aku mau ke Malaysia, Raf..bulan kemrin aku coba-coba daftar. Ternyata ada panggilan, ya memang masih bulan depan sih. Tapi aku mau segera kesana, sekaligus adaptasi di sana”
“Wah, sudah ada panggilan to? Hebat ente Run...lha terus si Faruq, temen ente tu kemana?”
“Dia sudah punya garapan...pesantren bapaknya kan perlu tenaga berbakat seperti dia...”
“Oh, sudah punya pesantren besar ya?”
“Ya lumayan lah...santrinya sudah mencapai 3000-an, laki-laki dan perempuan...Aku kemarin pernah diajakin kesana. Karena bapaknya juga alumni Nurussalam, jadi ya suasana yang terbangun mirip banget sama Nurussalam. Cuma bedanya disana membuka pendaftaran buat santriwati juga....”
Aku mengangguk-angguk, terlihat di kejauhan Anwar dan Agus berbincang serius. Aku mendatangi mereka berdua. Acara sudah dimulai, kelas enam dipanggil satu per satu. Biasanya panggilan pertama ini bagi yang akan mengabdi di Nurussalam 1.
“Serius amat gus? War? “ Aku menyalami mereka. Kali ini mereka tersenyum, biasanya cuma nyengir.
“Ya..membicaraka masa depan ini. Meskipun masih satu tahun lagi pengabdian. Anwar katanya mau coba melanjutkan ke mesir. Pendaftarannya masih 4 bulan lagi, jadi dia mau ngisi pengabdian dulu, baru kemudian coba minta izin ke pak Kyai untuk meneruskan kuliah di mesir....” Agus mnejelaskan
Anwar memang salah satu temanku yang cerdas. Ketika dia santri, dulu selalu duduk di kelas “B”. Kelas dengan kulitas terbaik dalam pendidikan di Nurussalam. Tapi enteh kenapa pas kuliah dia harus “tersandung” masalah yang sama dengan aku, Ushul Fiqih. Pantas kalau dia nampak haus sekali akan ilmu.
“Alhamdulillah...ente sendiri, Gus?”
“Lha kalau saya yo siap-siap saja langsung S-3 (baca : Estri), kan Nurussalam 3 itu sama Jombang deket. Jadi bisa di sambil nikah lah....ha..ha....”
“Agus udah ga betah Raflie, yang ada difikrannya perempuan terus....ya udah lah, biar dia nikah aja...” Anwar menambahkan masih sambil tertawa.
Aku tersenyum lebar. Mataku memandang ke arah gedung Saudi. Gedung yang penuh sejarah. Saat ini tengah menjadi saksi yang entah ke berapa kalinya kelas enam yang akan ditugaskan.
Sejenak aku mengalihkan pandanganku. Ada sepasang suami istri dengan dua anaknya sedang menunggu. Sang Bapak nampak kurus dengan baju batik, sedangkan sang Ibu berjilbab rapat dengan warna hijau teduh. Si Ibu ini, saya lihat berjalan dengan terpincang-pincang. Sesekali, si bapak nampak kerepotan mengatur dua putra-putranya yang lain yang sedang berkejar-kejaran. Si Ibu nampak menengok ke arahku, dia tersenyum.
Aku bertanya-tanya, siapa beliau berdua ini? Kenapa senyum mengartikan kalau si Ibu ini sudah mengenalku? Si Ibu lalu memanggil suaminya nampak menunjuk-nunjuk kepadaku. Sang Suami nampak memadangiku lalu mengangguk-angguk. Belau berdua kemudian mengarahkan langkah kakinya ke arahku.
Aku berdiri dari kursiku, lalu beranjak melangkah kaki menuju ke arah mereka berdua.
“Assalamualaikum Ust....” Sapa sang Ayah sambil mengukur tangan untuk bersalaman.
“Wa alaikum salam...Maaf, bapak dan ibu ini siapa ya?”
Sang Ibu tersenyum. Beliau memandang suaminya sejenak.
“Kami orang tua dari Wahyu, Ustadz..... Wahyu Adi Winarno....”
Otakku langsung bekerja mencari nama yang disebut di memorinya. Tidak butuh waktu lama. Its Found..!
“Oooh...Masya Allah...Masya Allah...bapak dan ibu ini dari Sulawesi?” Tanyaku.
Mereka berdua mengangguk.
Aku mengajak mereka untuk duduk di kursi kosong yang ada di sampingku.
“Kapan datang ke Nurussalam, ibu?”
“Sudah dua hari ini kami disini Ustadz, kemarin ketika kami menemui Wahyu, dia banyak bercerita juga tentang Nurussalam ini. Juga soal Ustadz. Bagaimana Ustadz sudah menasehati dia ketika ayahnya ini memukuli saya dulu. Semua dia ceritakan....” Si Ibu ini bercerita sambil tersenyum. Matanya memandang ke arah suaminya. Kebalikan dari istrinya, sang suami sama sekali tidak tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Sejurus kemudian dia berucap,
“Terima kasih atas nasehatnya Ustadz, saya merasa terpukul sekali ketika Wahyu menelopon saya. Dengan lemah lembut dia sampaikan bahwa dia hampir saja tergelincir untuk pergi ke Sulawesi untuk membunuh saya....Saya terhenyak, betapa anak saya sudah besar ternyata, sampai punya niat membunuh saya....” Suara sang bapak terputus. Sejenak berganti isakan.
Suasana hening sejenak.
“Wahyu mengatakan bahwa apa yang saya lakukan dia anggap sudah sangat keterlaluan...Saya akui Ust, saya dulu memang bukan orang baik. Saya penjudi ustadz, saya khilaf, saya sampai membuat kaki istri saya patah hanya gara-gara tidak mau menyerahkan sertivikat tanah yang dia miliki. Saya betul-betul lupa daratan, betul-betul lupa diri. Saya tidak pernah tahu bagaimana pengorbanan istri saya untuk menyelamatkan wahyu dari pengaruh saya. Wahyu dikirim ke Jawa, agar bisa belajar agama dan tidak melakukan apa yang selama ini saya sudah perbuat....” tangis si bapak pecah, tersedu-sedu
“...dan saya sama sekali tidak ikut membiayai wahyu ust..saya betul-betul tergoda judi, saya sama sekali tidak mempedulikan istri dan anak-anak saya..saya berdosa ust..saya bersalah....”
Sang ayah memelukku dalam tangsinya. Anwar dan Harun yang tanpa sengaja melihat kejadian itu mengernyitkan dahi, kemudian saling pandang. Aku yang salah tingkah. Untung Ibunya wahyu segera menarik tangan suaminya untuk tidak lama-lama memelukku...
“Bapak, masya Allah...bahagia rasanya melihat bapak saat ini sudah bersama-sama ibu dan adik-adiknya wahyu menjemputnya di saat bersejarah ini...” Aku berucap pelan
“ ...saya sangat bersyukur bapak sudah menyadari kesalahan bapak. Saya tidak tahu, apa yang akan diperbuat wahyu jika saat ini ayahnya belum menyadari kesalahannya. Alhamdulillah, Allah sudah sudah memberikan hidayahnya kepada bapak. Saya bukanlah orang yang menyadarkan bapak, Allah yang menyadarkan. Kalau bukan Allah, tidak akan mungkin saya atau siapapun melakukannya…”
Bapak itu mengusap matanya. Perlahan dia melepas pelukannya. Aku tersenyum melihatnya, sekali lagi bapak itu minta maaf, dia juga bercerita kalau biaya kenerangkatnnya ke sini diperoleh dari uang tabungan wahyu selama di Nurussalam. Dia begitu terharu, karena disaat di berjudi di sana, disini wahyu justru hidup sederhana sehingga mampu menabung untuk keberangkatannya.
Wahyu, saya kenal memang sebagai santri yang sederhana. Ketika teman-temannya ramai mengumpulkan uang untuk buka puasa, maka dia pasti membayar paling akhir, mungkin dia memperhitungakan dulu nilai patungan buka puasanya dengan nilai tabungannya. Dia juga dikenal teman-temannya sebagai santri yang jarang sekali jajan. Masya Allah, ternyata ini tujuannya…
“Raflie, ditunggu teman-teman buat foto bersama, Ayo..!” Agus memanggilku dengan suara keras.
Aku mengangguk. Lalu mohon pamit kepada orang tua wahyu. Keduanya melepasku dengan senyum. AKu segera bergabung dengan agus dan anwar menuju ke depan masjid. Dimana teman-teman yang lain sudah menunggu.
“Ayo, foto dulu depan masjid, habis ini kita bakalan susah ketemu. Ga semua di Jawa kan…” Syawaludin berpose sambil cengar-cengir.
“Ayo Gus, sudah dandan kaya pengantin gitu kapan nikahnya ente?” Nursidi bertanya
“ Lha aku ini pulang tinggal Qabiltu nikahahaa , kelar nur…Lha daripada ente, selesai kuliah, nunggu dulu sampai lumutan baru nikah…” Agus sewot menyahut
Kami semua tertawa, indah nian suasana pagi hari ini. Kami berjajar didepan tangga masjid tingkat dua itu. Tersenyum memandang matahari yang pagi itu begitu hangat menyinar bumi.Menatap gedung Aligarh, gedung yang begitu anggun itu seakan tersenyum dalam cerianya suasana pagi ini. Yah, gedung itu tersenyum menyaksikan santr-santri kelas enam Nurusalam telah menyelesaikan belajarnya sampai akhir. Mungkin juga tersenyum karena melihatku selesai diwisuda di ISIN.
Terihat dari jauh, anak-anak santri yang baru lulus itu berhamburan sambil berangkulan. Memancarkan kebahagiaan mereka. Aku menarik nafas panjang. Fikiranku terbang pada 6 tahun yang lalu. Disaat, aku masih seperti mereka. Waktu itu aku di panggil di Yudisium ini berdua, dengan Toha Nurhadiyan, sahabatku sesama orang Ponorogo. Aku sendiri tidak tahu, kenapa aku dipanggil berdua. Teman-temanku yang lain dipanggil banyak orang, tapi kami cuma berdua.
Terlihat dihadapan kami KH Syamsudin Basyir menatap kami dalam-dalam. Suara baritone beliau tegas berkata…
“Kalian ini santri Ponorogo, sekarang jadi Ust dari Ponorogo, kelak juga akan kembali ke Ponorogo. Di Pundak kalian inilah masa depan pesantren ini dititipkan. Kawan-kawanmu yang dari luar Ponorogo, tentu akaj kembali membangun daerahnya masing-masing. Berjuang di daerahnya masing-masing. Maka kalian sengaja saya tempatkan disini. Di Nurussalam ini. Biar kalian tahu dan mehahami, bahwa menjadi guru itu tidak semudah yang kalian bayangkan. Supaya kalian memahami arti sebuah tanggung jawab. Bahwa menjadi Guru itu tanggung jawabnya berat, dihadapan Allah dan manusia. Kalau kalian sukses mendidik santri-santri kalian, maka pahala kalian akan mengalir. Tapi kalau perbuatan kalian memberi contoh negative kepada santri kalian, maka rentetan dosa kalian akan dicintih oleh santri kalian, dan akan mengalir sebagaimana pahal jika kalian berbuta baik.
Kalian Ust dari Ponorogo. Juga harus memberi contoh yang baik kepada rekan-rekan kalian yang dari Ponorogo. Jangan malah ngajakin bikin nasi goreng
Eng mislanya. Itukan malah mengajari Guru-guru melanggar disiplin namanya….” Nasehat beliau membuat Guru-guru di sekitar beliau tertawa. Kami Cuma tersenyum kecil.
Kenangan yang tidak akan kulupa, aku membatin. Nurussalam ini, saya rasakan ketika aku jadi santri, sampai sekarang saya jadi Guru, selalu meninggalkan kenangan yang bermakna dalam hidupku. Dan sekarang kenangan itu sudah hendak tiba diujung, satu tahun lagi saya diminta berjuang di Nurussalam. Tidak terasa, saya menghabiskan 10 tahun hidupku di Pesantren ini.
Dari jauh terlihat anak-anak sudah saling rangkul, bersalam-salaman, dan tertawa-tawa. Aku tersenyum. Anak-anak ini baru saja menyelesaikan ujian akhir yang melelahkan itu. Sepertinya baru kemarin ujian kelas enam Nurussalam ini aku alami. Sebulan yang penuh konsetrasi, sebulan yang penuh perhatian, sebulan yang sulit melupakan. Ujian ini dimulai ketika kami dikarantina. Sebuah proses belajar total melepaskan semua tanggung jawab pesantren kepada adik-adik kelas lima. Kami dikumpulkan di Aula Nurussalam. Kami boleh teriak-teriak, boleh tegang-tegangan, boleh bertingkah asalkan semuanya dalam rangka belajar. Tidak boleh keluar, kecuali jadwal mandi, makan, dan Sholat. Tidurpun juga harus di Aula gedung pertemuan.
Selesai? Tentu saja belum, itu baru permulaan. Setelah itu ada amaliah, praktek mengajar, lalu dimulailah ujian lisan. Kami dipanggil dua orang-orang. Menghadapi Guru-Guru kami yang rata-rata S-2 dan S-3 lulusan luar negeri dan didampingi Guru pengajar kami yang S-1. Pertanyaanya semuanya berbahasa Arab dan Inggris. Materinya dari mulai Bahasa Arab dasar, Muthalaah (bacaan arab), Nahwu, Sharf, Mantiq, Balaghah, Reading, Grammar, Compostotion, Dictation, Kepondok modernan, Tarbiyah wa Ta’lim (Pendidikan dan Pengajaran), dan semua materi itu dimulai dari kelas satu sampai kelas enam…!!! 6 tahun kita belajar…semua di ujikan…semua dipersiapkan…
Baiklah, sudah selesai? Sama sekali belum. Tibalah kita pada puncak ujian ini. Ujian tulis yang betul-betul saya tidak akan pernah mau mengulanginya seumur-umur. Semua pelajaran, berbahasa Arab dan Inggris, dan 20% mata pelajaran berbhasa Indonesia. Dan semuanya ESAI…!! Tidak ada yang pilihan Ganda. Jadi harus dihapalkan, harus dimengerti, harus dikonsentrasikan, diluar kepala. Ini yang membuat saya strees. Saya yang setiap pagi selalu susu dan telor setengah matang, siang hari redoxon, dan malam hari konsumsi cerebrofit. Itu akhirnya ndak kuat, dihari ke 7 saya muntah. Badan saya panas meninggi. Mata saya sayu. Tapi saya memaksa diri untuk ujian, tau alasannya?? Tidak ada istilah ujian susulan di Nurussalam. Ga ikut ujian ya sudah..wassalam…ujian lagi tahun depan…
Suasana ujiannya? Kami duduk berdua dengan jarak 1-1,5 M. Diawasi oleh Guru-Guru senior yang semuanya lelaki..!! Dengan resiko berat yang harus kami tangung…NYONTEK DIUSIR..!!
Kalau melihat betap stresnya kami, boleh dikatakan kami lebih berhak untuk teriak-teriak sambil naik motor merayakan selesainya ujian kelulusan ini bukan? Kami tentu lebih berhak mencorat-coret baju kami sebagi tanda tuntasnya stress kami selama menempuh ujian bukan? Kami tentu lebih berhak berkeliling pondok dengan knalpot meraung-raung lalu merayakan selesainya ujian “gila” ini dengan penuh kemenangan??
Tapi…kami tidak merayakannya. Kami berjas dan berbaris rapi lalu menghadap kiblat, didepan masjid Nurussalam, kami bersujud bersama-sama mensyukuri bahwa ujian akhir telah selesai dan sudah kita lewati. Untuk kemudian menyalami teman kami satu per satu, sambil mengucap selamat berjuang…Sebab bisa jadi kita tidak akan pernah bertemu lagi. Karena memang kita akan dipisah jarak dan waktu, sambil beruntai air mata dan senyum kami ucapkan
Anak-anak mulai berkumpul di depan Aula pertemuan, seperti biasa, acara perpisahan ini akan dimulai dengan berziarah ke makam pendiri pesantren. Mereka akan berdoa disana, sambil mengenang perjuangan beliau dulu kala. Biasanya, dari sinilah nuansa haru itu bermula. Setelah itu mereka akan keliling pesantren, sambil melantunkan lagu “Oh Pondoku”. Melihat-lihat lagi satu-demi satu gedung tempat mereka menginap, hidup, mengatur dan diatur dalam waktu 24 jam. Melihat lagi bekas-bekas kenakalan mereka, tempat mereka sembunyi waktu sholat berjamaah di masjid, bersembunyi ketika ada lari pagi atau pramuka. Lalu kedapur umum, tempat mereka makan malam, atau makan bersama secara sembunyi-sembunyi, karena jika ketahuan ustadz mereka tentu akan di botakin.
Disini biasanya tangis akan semakin deras. Apalagi melihat Ibu-ibu pengelola dapur tersenyum melihat mereka. Ingatan mereka akan dibawa masuk ke relung ingatan akan sebuah sambal dengan kualitas “legendaris”. Kami menyebutnya “Salatoh Roha” (Sambal Istirahat). Sebuah sambal yang hanya ada pada saat jam Istirahat. Itu disediakan bagi para santri yang kehabisan lauk, sehingga Cuma dberikan sambal dengan kerupuk. Sambalnya biasa, Cuma cabe, bawang putih, bawang merah, gula dan garam, tapi rasanya itu yang susah dilupakan. Mungkin karena lapar juga, sehiangga rasanya jadi lezat sekali. “Salatoh Roha” ini pasti akan jadu kenangan yang tak terlupakan.
Terdengar sayup-sayup lagu “oh pondokku” mendekat. Kami semua, para wali kelas berdiri. Sebentar lagi mereka akan membuat lingkaran besar, untuk mengucap kata-kata perpisahan kepada teman-teman dan kepada pondoknya. Tentu saja juga kepada kami para wali kelas. Nampak dari kejauhan, Fuad ketua angkatan tahun ini sudah berkali-kali mengusap pipinya. Matanya merah. Dia nampak sedih. Fahmi, rekan yang berdiri disampingnya malah sesenggukan sambil berurai air mata. Saat-saat itu tba juga akhirnya. Kembali mataku tetuju kepada tulisan di gedung Aligarh “Ke Nurussalam, apa yang Kau cari”, semga anak-anak ini berhasil menemukan apa yang selama ini mereka cari.
Setelah semua berkumpul, kami sepakat untuk melupakan status kami sebagai ustadz dan santri. Kami bersama-sama menyatukan diri atas nama Blitza Remigion. Nama angkatan kelas enam tahun ini. Kami berangkulan bersama, lebur dalam dalam tangis perpisahan antar saudara. Satu persatau aku pandangi para santri kelas enam ini, semuanya matanya merah. Semua kenangan tertumpah hari ini, semua emosi meluap hari ini. Sekilas nampak Anwar menangis tersedu-sedu, berangkulan erat dengan Syawaludin yang juga tengah terisak. Aku sendiri tidak mampu lagi menahan air mata ini untuk tidak menetes. Suasana telah membawaku untuk ikut serta tenggelam dalam nuansa keharuan hari ini.
Lalu nampak dua orang santri maju kedepan, dengan penuh perasaan mereka menyanyikan lagu tentang kisah mereka di Nurussalam. Lalu satu diantara mereka membacakan puisi tentang cerita itu ditengah-tengah lagu. Puisi yang indah. Berkisah tentang cerita mereka 4 atau 6 tahun yang lalu. Mereka menjadi santri baru, yang polos , yang masih lugu. Belajar semua hal tentang pesantren, tentang cara belajarnya, cara makannya, cara berbahasanya, cara pidatonya dan yang lain. Lalu tiba ketika mereka menjadi anak lama, yang sok tahu didepan anak baru, sok menguasai Pesantren, sok menyalah-nyalahkan Guru, Sampai kemudian para santri tiba dikelas lima,sebagai pengurus asrama, pengurus organisasi pelajar, dan kemudian tiba di kelas enam. Sebagi “penguasa” pesantren dan tangan kanan bagian pengasuhan santri, lalu tiba saatnya perpisahan ini. Puisinya pas, pemilihan katanya tepat, satu persatu anak-anak hening dalam tangis, ada yng mulai jatuh pingsan.
Kemudian anak-anak silih berganti mengungkapkan kesannya di Nurussalam ini, ada yang mengharukan, menggelikan, bahkan ada yang seperti marah-marah, tapi semua itu justru bermuara kepada satau kesimpulan, semua memori ini, tak akan pernah terlupakan.
Terakhir kami semua menghadap kearah kiblat, lalu dengan penuh kesyukuran kami angkat kedua tangan kami, lalu bersujud syukur bersama-sama. Kami letakkan kepala kami diatas tanah. Ya Allah, kami benamkan setetes ilmu kami ditengah gelombang lautan luas ilmumu yang tak terbatas. Kami berharap ilmu ini manfaat ya Allah.
Ditengah panas matahari Ramadhan kami tertunduk dalam-dalam. Semua terdiam dalam bisu tanpa kata. Ingatan-ingatan kami semua terbetot kepada satu pusaran, semua yang bercerita tentang kenangan di Nurussalam. Mata kami kembali basah, menginbat bagaimana santri-santri ini dulu menangis ketika ditinggal orang tuanya, menangis ketika dihukum, menangis ketika sakit, dan sekarang semua betul-betul jadi kenangan manis. Mereka sudah dewasa, bahkan sudah siap dilepas di medan perjuangan pengabdian.
Acara siang itu hampir berakhir, ditutup dengan acara salam-salaman perpisahan dengan teman dan kami para wali kelas. Inilah puncak acaranya. Mereka bersalaman satu per satu, dengan teman sekamar, teman se asrama, teman sekelas, teman akrab satu kelompok sepak bola, mereka menuntaskan tangis mereka di acara ini.
“Ust…maafkan kami ust…kami yang sudah bikin antum sakit hati karena ulah kami..maafkan ust..”.
“Ust, mohon doa ust, semoga kami bisa berjuang di tempat pengabdian kami..”
“Sampai jumpa ust, semoga Allah mempertemukan kita kembali…maaf jika kami ada kesalahan kepada antum…”
Bertubi-tubi ucapan-ucapan senada diucapkan kepada kami ketika mereka bersalaman dengan kami. Kamipun tak kuasa menjawab, Cuma anggukan dan senyuman yang mampu kami berikan di hari perpisahan itu. Hari itu kami tak kalah harunya. Syawal yang biasanya senang bergurau juga nampak merah dan basah matanya. Anwar yang paling mengharukan, dia nampak tersedu-sedu menerima salamn dari para lulusan di tahun ini.
Wahyu nampak menghampiriku, lalu dengan tangis tertahan dia cium tanganku dan diegangnya dengan erat. Dia tak kuasa menahan, dia menangis penuh ditanganku.
“Ust…terma kasih atas egala nasehat antum ust, antum sudah memberikan harapan itu kepada saya, kepada keluarga saya, antum telah menyelamatkan nyawa bapak saya, antum menyelamatkan saya dari kedurhakaan yang tidak terampun…hanya terima kasih ust..saya tidak mampu membalas..” Isaknya.
Aku menggeleng…
“…bukan wahyu, bukan saya…tapi Allah yang maha membolak-balikkan hati yang merubah semuanya, Allah yang menyelamtkan ayahmu, Allah yang sudah merubah niatmu..Allah..bukan saya…” sekuat tenaga saya tahan biar saya tidak ikut menangis.
“….iya ustadz…iya…”
Perlahan kulepaskan tanganku dari pelukannya. Wahyu memandangiku, kulihat matanya kuyup. Dia tersenyum lalu mohon didoakan, aku menangguk,
“Insya Allah manfaat ilmumu nak…” kuelus kepalanya. Lalu satu persatu para alumni baru ini menyalami kami, ada yang memeluk kami dengan tangis. Ritual tahunan yang mengesankan.
Setelah selesai semua proses salam-salaman, para lulusan itupun bergabung dengan orang tua mereka. Mereka segera berkemas untuk kemudian berangkat pulang ke kampong halaman masing-masing, meninggalkan kisah indah di Nurussalam. Terlihat Syawaludin Anwar dan Farouq juga bersiap naik bis. Mereka memang pulang berbarengan dengan para wali santri yang tidak membawa kendaraan sendiri, mereka naik Bus.
“….Raflie, selamat jaga kampus ya..tenang, satu tahun itu tidak lama, tahun depan kau juga akan pulang juga…tapi ente pulang kemana? Lha rumah ente di Ponorogo juga..ha…ha…” Syawal mulai menggodaku, keharuannya hilang. Aku tersenyum kecut.
“Syawwal..salam ke penunggu sungai Musi ya..” ujarku sambil ketawa
Syawwal membalasnya dengan tersenyum. Lalu satu demi satu mobil dan bus meninggalkan pesantren ini. Menjelang sore, pesantren ini kembali sepi. Hanya kelas lima yang menunggu Yudisium naik kelas enam yang nampak. Anton sudah pulang baru saja, tinggal aku sendiri. Aku berjalan menuju gedung satelit, kamarku. Kulewati Nurusalam FM, Dapur Guru, Gedung Saudi, Gedung Asia, sayup-sayup terdengar bacaan Al-quran dari masjid pesantren. Sebentar lagi adzan magrib berkumandang. Sesaat terbayang bagaimana Ayah dan kedua adikku berbuka puasa sore ini. Biasanya dengan Ibu, tapi tahun ini ibu sudah tiada. Tiba-tiba ada rasa kangen di hatiku.
Aku menengok kebelakang. Nampang Masjid Nurussalam berdiri tegak memandangiku. Seakan mengatakan bahwa dia sedia menerimaku dan para alumni yang lain, kapanpun kita mau datang. Aku menatapnya dalam-dalam. Masa itu akan datang, dimana kehidupanku akan berubah, aku mungkin sudah tidak di Nurussalam lagi, sudah punya keluarga sendiri, sudah punya kehidupan sendiri, tapi Nurussalam tidak akan hilang dihati.
Meski saat ini, aku memang sendiri. Disaat kawan-kawanku seangkatan sudah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dalam fase kehidupannya. Tahun ini aku masih disini, sendiri menyusuri semenanjung damai…Nurussalam…
TAMMAT

Post a Comment