Sekelumit Kisah Dari Pak Uwoh | Ust Hidayatulloh Zarkasyi Ma

Table of Contents
Sekelumit kisah dari pak uwoh(ust Hidayatulloh Zarkasyi Ma)

By oky rachmatulloh

Ketika rombongan pesantren anak sholeh (Pas) GONTOR Bersilaturahmi ke rumah ust Hidayatulloh zarkasyi. Beliau menuturkan bahwa apa yg kami lakukan di PAS adalah seperti mengulang lagi apa yg dilakukan para pendiri Gontor pertama kali dulu.....

Sekelumit Kisah Dari Pak Uwoh | Ust Hidayatulloh Zarkasyi Ma
Sekelumit Kisah Dari Pak Uwoh | Ust Hidayatulloh Zarkasyi Ma 

Dulu itu, Kh ahmad sahal mengikuti muktamar umat Islam di Surabaya. Baliau nampak masyghul, bagaimana umat Islam yg sebegitu banyaknya tidak ada satupun yg bisa berbahasa Arab dan Inggris sekaligus untuk dijadikan utusan ke mukmatamar umat Islam sedunia. Akhirnya beliau bertekad harus membuat pondok yg mengajarkan bahasa Arab dan bahasa inggris sekaligus. Tapi memulainya darimana? Sedangkan pesantren peninggalan kakek dan ayahnya sudah tidak berbekas.

Akhirnya beliau bikin bedug. Bedug itu ditabuhi sehingga anak-anak kecil berdatangan. Lalu di ajari mandi, wudlu dan sebagainya. Setelah itu lalu beliau beli mercon, setelah itu semakin banyak anak-anak yang datang. Itulah santri-santri Gontor yg pertama. Dan tidak lama ternyata, alumni Gontor yg beliau mimpikan itu hadir di muktamar umat Islam di tahun 50an...

Jadi kenapa saya ceritakan ini? Karena dulu saya di beri cerita ini dari pak sahal dan ayah saya. Dulu penduduk Gontor ini asalnya cuma 4 orang, itu zaman kakeknya ayah saya. Mereka itu adalah prajurit sultan agung yg melarikan diri. Itu membentuk komunitas Gontor kidul, lalu datang lagi dulunya bekas prajuritnya pangeran Diponegoro. Itu membentuk gontor tengah itu, lalu yg Gontor tengah nikah dengan Gontor kidul, membentuk kominitas lagi gontor utara ini, ditambah para pendatang.

Dulu juga setiap kali hari raya seperti ini para warok yg sekti-sekti itu datang kepada mbah lurah, pak sahal, dan ayah saya. Saya tanya, bapak kenapa menerima warokan yg tidak pernah sholat itu? Beliau bilang warokan itu sedang.... (beliau menyebut istilah jawa yg saya lupa) itu artinya menunjukkan wilayah. Ini daerah saya kyai, niki daerah panjenengan. Dan memang tidak saling ganggu. Kadang-kadang para warokan itu diundang ke Gontor untuk reogan. Dan mereka senang sekali diundang. Maka kalau pentas di Gontor, tidak ada bkar menyan, urakannya di hilangkan. Itulah kehidupan di Gontor dulu...

Nah, kalian ini kan sama dengan pak sahal dulu, nyekel bocah-bocah. Mendidik anak-anak. Tingkat kesulitan tingkat kesabarannya sama. Maka itulah saya bilang, kalian semua ini penerus pak sahal. Berjuanglah ikhlas......

Post a Comment