Santri Muqim Pertengahan Tahun
Table of Contents
Santri Muqim Pertengahan Tahun
Oleh Syamsul Qomar
Melihat antusias wali santri menyambut putra-putri mereka yang akan pulang berlibur setelah ujian pertengahan tahun, membawa memori saya ke belasan tahun lalu.
Karena ekonomi keluarga sedang terpuruk, sempat dibantu bayaran oleh wali kelas, saya harus sadar diri tidak ikut perpulangan pertengahan tahun konsulat Jakarta.
Sedih sebenarnya ada, tapi bukan muslim jika terjerat duka terlalu lama, apalagi hanya untuk hal "kecil" yang tidak berimbas pada kehidupan akhirat.
Sebenarnya bagi saya rasa itu ada karena beberapa hal:
Teman konsulat saya pulang semua, maklum konsulat pulau jawa.
Teman club keterampilan saya juga ambil liburan semua. Meski ada beberapa yang bukan konsulat Jawa, tapi mereka ikut konsulat pulau Jawa.
Saat itu, saya satu-satunya pengurus kelas 4 yang tetap muqim. Ini pengalaman special bagi saya, pelajaran penting bahwa pangkat dan jabatan hanyalah pinjaman.
Maka, saya segera mencari hikmah yang dapat menghibur hati. Hiburan itu adalah: saya tak usah bercapek-capek mengalami perjalanan jauh pulang-pergi, saya tidak perlu repot nantinya jika kembali ke pondok harus masuk ruang periksa, antri bersama ribuan santri untuk daftar ulang, dll sesuai imajinasi saya.
Walaupun sedang libur, Gontor tidak pernah benar-benar libur. Ada santri kelas 6 yang ujian awal tahun.
Sementara itu, santri muqim melakukan aksi bersih-bersih pondok di pagi hari, dan piket malam jaga pondok.
Saat itu saya ditugaskan berjaga di rumah Kiyai Syukri Zarkasyi, sebelah barat lapangan hijau. Sebenarnya boleh jaga diteras, tapi karena segan, saya memilih duduk pas dipinggir jalan, di atas pasir, di depan pagar.
Entah bagaimana ceritanya, entah bagian keamanan saat itu terlalu segan atau dirasa mampu :v malam itu saya hanya berjaga sendiri. Tanpa to'am, sendirian, saya tertidur, dan dibangunkan oleh putra beliau.
Tak lama, dari utara lapangan hijau saya melihat iring-iringan masyarakat membawa keranda mayat, menuju gang tepat samping rumah Kiyai Syukri. Itu pertama & terakhir kali saya lihat ada pemakaman jenazah malam hari.
Selain itu umumnaya santri muqim mengisi waktu dengan bermain. Hampir di setiap sudut pondok ada saja yang berolah raga, mumpung sepi, kapan lagi merasa rumah sendiri.
Lain lagi dengan saya, sebagai anggota khusus Gastrada, sesekali saya membantu kelas 6 membawa dan mengontrol sepeda hias yang sedang dimodif atau diperbaiki di tukang las.
Selain itu, saya belajar komputer di Computer Center, karena Gastrada punya perangkat komputer di sana.
Saking asyiknya, saya menolak tour rekreasi ke Telaga Sarangan yang disediakana pondok gratis. Tahun berikutnya saya ikut yang ke Pandawa Water World.
Kalau dipikir, pondok ini terlalu baik. Dalam rangka menghibur kami, desediakan jalan-jalan, lengkap dengan tiket masuk dan makanan.
Semua itu telah berlalu, saat ini yang liburan anak bapak-ibu. Sebagai alumnus (alumni gak sampai lulus) aya hanya titip shalat dan pergaulan generasi saya.mereka.
Oleh Syamsul Qomar
Melihat antusias wali santri menyambut putra-putri mereka yang akan pulang berlibur setelah ujian pertengahan tahun, membawa memori saya ke belasan tahun lalu.
![]() |
| Santri Muqim Pertengahan Tahun |
Karena ekonomi keluarga sedang terpuruk, sempat dibantu bayaran oleh wali kelas, saya harus sadar diri tidak ikut perpulangan pertengahan tahun konsulat Jakarta.
Sedih sebenarnya ada, tapi bukan muslim jika terjerat duka terlalu lama, apalagi hanya untuk hal "kecil" yang tidak berimbas pada kehidupan akhirat.
Sebenarnya bagi saya rasa itu ada karena beberapa hal:
Teman konsulat saya pulang semua, maklum konsulat pulau jawa.
Teman club keterampilan saya juga ambil liburan semua. Meski ada beberapa yang bukan konsulat Jawa, tapi mereka ikut konsulat pulau Jawa.
Saat itu, saya satu-satunya pengurus kelas 4 yang tetap muqim. Ini pengalaman special bagi saya, pelajaran penting bahwa pangkat dan jabatan hanyalah pinjaman.
Maka, saya segera mencari hikmah yang dapat menghibur hati. Hiburan itu adalah: saya tak usah bercapek-capek mengalami perjalanan jauh pulang-pergi, saya tidak perlu repot nantinya jika kembali ke pondok harus masuk ruang periksa, antri bersama ribuan santri untuk daftar ulang, dll sesuai imajinasi saya.
Walaupun sedang libur, Gontor tidak pernah benar-benar libur. Ada santri kelas 6 yang ujian awal tahun.
Sementara itu, santri muqim melakukan aksi bersih-bersih pondok di pagi hari, dan piket malam jaga pondok.
Saat itu saya ditugaskan berjaga di rumah Kiyai Syukri Zarkasyi, sebelah barat lapangan hijau. Sebenarnya boleh jaga diteras, tapi karena segan, saya memilih duduk pas dipinggir jalan, di atas pasir, di depan pagar.
Entah bagaimana ceritanya, entah bagian keamanan saat itu terlalu segan atau dirasa mampu :v malam itu saya hanya berjaga sendiri. Tanpa to'am, sendirian, saya tertidur, dan dibangunkan oleh putra beliau.
Tak lama, dari utara lapangan hijau saya melihat iring-iringan masyarakat membawa keranda mayat, menuju gang tepat samping rumah Kiyai Syukri. Itu pertama & terakhir kali saya lihat ada pemakaman jenazah malam hari.
Selain itu umumnaya santri muqim mengisi waktu dengan bermain. Hampir di setiap sudut pondok ada saja yang berolah raga, mumpung sepi, kapan lagi merasa rumah sendiri.
Lain lagi dengan saya, sebagai anggota khusus Gastrada, sesekali saya membantu kelas 6 membawa dan mengontrol sepeda hias yang sedang dimodif atau diperbaiki di tukang las.
Selain itu, saya belajar komputer di Computer Center, karena Gastrada punya perangkat komputer di sana.
Saking asyiknya, saya menolak tour rekreasi ke Telaga Sarangan yang disediakana pondok gratis. Tahun berikutnya saya ikut yang ke Pandawa Water World.
Kalau dipikir, pondok ini terlalu baik. Dalam rangka menghibur kami, desediakan jalan-jalan, lengkap dengan tiket masuk dan makanan.
Semua itu telah berlalu, saat ini yang liburan anak bapak-ibu. Sebagai alumnus (alumni gak sampai lulus) aya hanya titip shalat dan pergaulan generasi saya.mereka.

Post a Comment