Puisi Ustadz Hasan Abdullah Sahal Gontor
Table of Contents
Ini adalah puisi Ust Hasan tahun 1994, pak Jokowi waktu itu mungkin masih jadi pengusaha meubel dari baru jadi pengantin...
Tapi kalau kita baca, tetap keras dan tegas bukan KH Hasan Abdullah sahal menumpahkan kata-kata dalam puisinya ini?? Artinya bahwa KH hasan memberi kritik bukan karena Jokowi jadi Presiden, tapi karena presiden di mata beliau kurang benar mangawal amanahnya... Karena puisi tahun 1994 ini juga menorehakan perasaan yg sama, keras, tegas, berani..!!
Oleh Oky Rachmatulloh
PUISI KH.HASAN ABDULLAH SAHAL
Gontor, Februari 12, 1994
BUAT BANG DOMBA IDAMAN
Kutulis puisi ini untuk meneriakkan cetusan-cetusan
Terima kasihku.... kepada Raden Mas Bung Lelono (Bunglon)
hanguntal bangsa
khalifatul tamak Bondo
Kaulah yang mewakili aku dan kami
kaum frustasi
tanpa isi, tanpa misi
Kaulah bintang kami
insan-insan tak bersibghoh, tak beridentitas
Kaulah idola kami umat pengekor
dapat jatah sapi ribuan ekor
Kaulah anutan kami
generasi yang menjelma generator
Demi sesuap nasi jadi koruptor
Kutulis surat ini tuk mengucapkan dalamnya
terima kasih atas sikapmu
yang bijaksana dan bijaksini
menjilat sana menginjak sini
Salut atas " kedewasaanmu "
menyeberang lautan dalam perebutan ....perlombaan ....
menciptakan dan kemudian
berpura-pura menyelesaikan keributan, kerusuhan….
Kaulah yang paling pantas
jadi idola kami
kaum munafiq apportunist
robot-robot teladan kami yang berbobot
berbobot maskipun robot-robot
Jual saja-lah amanatmu
Jual saja-lah agamamu
kan terjaga derajat pangkat dan namamu
bukan asma Tuhan-mu
Tinggalkan Islam
tapi jangan penggal umat Islam
Islam harus di pojok
cukup di dalam tas kresek
atau di bawah jok
Mangkin terpojok, mangkin mengorok
Ajarilah kami mengemis
Ajarilah kami mencuri
Ajarilah kami menipu
Jadikanlah ia ajaran kami
Jadikanlah ia kurikulum sekolah kami
Jadikanlah ia tradisi bangsa
warisan anak cucu nanti ......
Harga diri ....... ? Ah teori ..... !
Kejujuran ....... ? Ah teori ..... !
Keadilan ...... ? Ah teori ..... !
Dua kali lima boleh sepuluh........ Asal komisinya dua puluh
Dua kali lima boleh sembilan...... Asal pelicinnya lima belas
Dua kali lima boleh delapan ........ Asal itu-nya sepuluh
Dua kali lima cukup lima .............. Sisanya nanti di surga
Sabarlah .....! ikhlaslah ......!
Ngono yo, ngono ning jo ngono ...
Sabarlah ... sabarkanlah !
Mapanlah ....!
Mapankanlah ...!
Dua puluh, tiga puluh, empat puluh tahun ... !
Mengangguk-angguk sambil bernyanyi
Tri-li-li .....kursimu, seragam safarimu mahal ..... !
Tri-li-li .....mobilmu, dasimu, sorbanmu sayang kena recall!
Buru-buru turun .... baru dua puluh lima tahun
Hanya kaulah terbesar, tercepat , tertinggi
Domba-dombamu terbanyak
terkuat
Bagiku dan bagi kami,
Generasi penjual diri, pelacur umat Ilahy .....
Biar, mereka terkapar ....
Biar, mereka terbakar ....
Biar, mereka terlempar ....lapar....menggelepar ....
Umat Islam kita
harus menyingkirkan Islamnya
ajarannya, aturannya,
dan hukumnya .... halal .. haramnya !
Belilah suaranya, teriaknya ...
penuhilah sakunya ...
jabatlah tangannya ....
rangkullah ... dekaplah ...
Asal .... asal melepaskan identitasnya
HAM-nya
shibghoh-nya
vokalnya .....
Kami generasi yang menjelma generator-generator baru
bersama kau ... robot-robot profesional
siap menjadi tumbal
Ilmu tak perlu dicari
orang berilmu boleh dibeli
dengan kertas bernol atau pistol, materil atau bedil ....
Rangkullah ... para penggede ..
Wahai .... idolaku
Wahai tukang bade'!
Biarkanlah umat
hancurkanlah umat
anggaplah mereka yang berani mengoreksi,
tak tahu .... tak mengerti
mereka iri
mereka kecewa
mereka barisan sakit hati
Cukup "suntik mati" dengan "surat sakti"
Pelan-pelan tapi pasti
Surat sakti, suntik mati
Pelan-pelan tapi pasti ......
Anda berjasa ....
Wahai……!!
penyambung lidah kami yang berputus asa dan berpasrah
Karena ....
asap dapur kami tetap redup
tak menyala tak berubah .....
Kami harus menipu diri sendiri
kami harus memekik-kan terima kasihku
Kutulis ini demi ...
terima kasihku!
aku kini masuk teve ...
wajahku tampak dilihat anak bini ...
wartawan menginterview ...
Aku dapat bergaya, berlagu ...
biniku bertambah ramah dan ayu ..
pantas berpose ... luwes merayu ...
Biasa!
Tak apalah!
Negara kita bukan negara agama ...
Jajan boleh asal tidak mendua ...
Pinjam boleh asal ke rumah tak dibawa ...
Selingan boleh asal warisan tetap ... buat anak, buat saya ...
Negara kita bukan negara agama!
Teruskanlah monopoli
Telanlah negara ini
Kalau turun pelan .. pelanlah ...
pelan ....pelan ...
25 tahunlah .... ! 30 tahunlah ... ! 32 tahunlah .. !
Agama direkayasa
Penganut agama dikasih jasa
Jangan berkuasa ......
Kita bangsa mejemuk
Harus cerdas dalam mengamuk
Asal Bapak senang
Asal Babe senang
Boleh beribadat …..
Boleh bermaksiat ....
Boleh mengaji .....
Boleh menari ....
Gontor, Februari 12, '94
![]() |
| Ustadz Hasan Dan Pak Joko Widodo Berjabat Tangan |
Tapi kalau kita baca, tetap keras dan tegas bukan KH Hasan Abdullah sahal menumpahkan kata-kata dalam puisinya ini?? Artinya bahwa KH hasan memberi kritik bukan karena Jokowi jadi Presiden, tapi karena presiden di mata beliau kurang benar mangawal amanahnya... Karena puisi tahun 1994 ini juga menorehakan perasaan yg sama, keras, tegas, berani..!!
Oleh Oky Rachmatulloh
PUISI KH.HASAN ABDULLAH SAHAL
Gontor, Februari 12, 1994
BUAT BANG DOMBA IDAMAN
Kutulis puisi ini untuk meneriakkan cetusan-cetusan
Terima kasihku.... kepada Raden Mas Bung Lelono (Bunglon)
hanguntal bangsa
khalifatul tamak Bondo
Kaulah yang mewakili aku dan kami
kaum frustasi
tanpa isi, tanpa misi
Kaulah bintang kami
insan-insan tak bersibghoh, tak beridentitas
Kaulah idola kami umat pengekor
dapat jatah sapi ribuan ekor
Kaulah anutan kami
generasi yang menjelma generator
Demi sesuap nasi jadi koruptor
Kutulis surat ini tuk mengucapkan dalamnya
terima kasih atas sikapmu
yang bijaksana dan bijaksini
menjilat sana menginjak sini
Salut atas " kedewasaanmu "
menyeberang lautan dalam perebutan ....perlombaan ....
menciptakan dan kemudian
berpura-pura menyelesaikan keributan, kerusuhan….
Kaulah yang paling pantas
jadi idola kami
kaum munafiq apportunist
robot-robot teladan kami yang berbobot
berbobot maskipun robot-robot
Jual saja-lah amanatmu
Jual saja-lah agamamu
kan terjaga derajat pangkat dan namamu
bukan asma Tuhan-mu
Tinggalkan Islam
tapi jangan penggal umat Islam
Islam harus di pojok
cukup di dalam tas kresek
atau di bawah jok
Mangkin terpojok, mangkin mengorok
Ajarilah kami mengemis
Ajarilah kami mencuri
Ajarilah kami menipu
Jadikanlah ia ajaran kami
Jadikanlah ia kurikulum sekolah kami
Jadikanlah ia tradisi bangsa
warisan anak cucu nanti ......
Harga diri ....... ? Ah teori ..... !
Kejujuran ....... ? Ah teori ..... !
Keadilan ...... ? Ah teori ..... !
Dua kali lima boleh sepuluh........ Asal komisinya dua puluh
Dua kali lima boleh sembilan...... Asal pelicinnya lima belas
Dua kali lima boleh delapan ........ Asal itu-nya sepuluh
Dua kali lima cukup lima .............. Sisanya nanti di surga
Sabarlah .....! ikhlaslah ......!
Ngono yo, ngono ning jo ngono ...
Sabarlah ... sabarkanlah !
Mapanlah ....!
Mapankanlah ...!
Dua puluh, tiga puluh, empat puluh tahun ... !
Mengangguk-angguk sambil bernyanyi
Tri-li-li .....kursimu, seragam safarimu mahal ..... !
Tri-li-li .....mobilmu, dasimu, sorbanmu sayang kena recall!
Buru-buru turun .... baru dua puluh lima tahun
Hanya kaulah terbesar, tercepat , tertinggi
Domba-dombamu terbanyak
terkuat
Bagiku dan bagi kami,
Generasi penjual diri, pelacur umat Ilahy .....
Biar, mereka terkapar ....
Biar, mereka terbakar ....
Biar, mereka terlempar ....lapar....menggelepar ....
Umat Islam kita
harus menyingkirkan Islamnya
ajarannya, aturannya,
dan hukumnya .... halal .. haramnya !
Belilah suaranya, teriaknya ...
penuhilah sakunya ...
jabatlah tangannya ....
rangkullah ... dekaplah ...
Asal .... asal melepaskan identitasnya
HAM-nya
shibghoh-nya
vokalnya .....
Kami generasi yang menjelma generator-generator baru
bersama kau ... robot-robot profesional
siap menjadi tumbal
Ilmu tak perlu dicari
orang berilmu boleh dibeli
dengan kertas bernol atau pistol, materil atau bedil ....
Rangkullah ... para penggede ..
Wahai .... idolaku
Wahai tukang bade'!
Biarkanlah umat
hancurkanlah umat
anggaplah mereka yang berani mengoreksi,
tak tahu .... tak mengerti
mereka iri
mereka kecewa
mereka barisan sakit hati
Cukup "suntik mati" dengan "surat sakti"
Pelan-pelan tapi pasti
Surat sakti, suntik mati
Pelan-pelan tapi pasti ......
Anda berjasa ....
Wahai……!!
penyambung lidah kami yang berputus asa dan berpasrah
Karena ....
asap dapur kami tetap redup
tak menyala tak berubah .....
Kami harus menipu diri sendiri
kami harus memekik-kan terima kasihku
Kutulis ini demi ...
terima kasihku!
aku kini masuk teve ...
wajahku tampak dilihat anak bini ...
wartawan menginterview ...
Aku dapat bergaya, berlagu ...
biniku bertambah ramah dan ayu ..
pantas berpose ... luwes merayu ...
Biasa!
Tak apalah!
Negara kita bukan negara agama ...
Jajan boleh asal tidak mendua ...
Pinjam boleh asal ke rumah tak dibawa ...
Selingan boleh asal warisan tetap ... buat anak, buat saya ...
Negara kita bukan negara agama!
Teruskanlah monopoli
Telanlah negara ini
Kalau turun pelan .. pelanlah ...
pelan ....pelan ...
25 tahunlah .... ! 30 tahunlah ... ! 32 tahunlah .. !
Agama direkayasa
Penganut agama dikasih jasa
Jangan berkuasa ......
Kita bangsa mejemuk
Harus cerdas dalam mengamuk
Asal Bapak senang
Asal Babe senang
Boleh beribadat …..
Boleh bermaksiat ....
Boleh mengaji .....
Boleh menari ....
Gontor, Februari 12, '94

Post a Comment