Ping Sewu | Seribu Kali Oleh Oky Rachmatulloh

Table of Contents
#Ping_sewu_(seribu_kali)

#by_oky_rachmatulloh

Di depan ratusan guru di Gontor, dengan suara tegas dan mimik wajah serius, Kh syukri zarkasyi berkata dengan suara bariton beliau, kurang lebih isinya sebagai berikut :

Ping Sewu | Seribu Kali Oleh Oky Rachmatulloh

" ada yang mangatakan, kenapa materi pidato saya kok sama saja. Diulangi lagi. Materi kemarin sama saja dengan hari ini. Kenapa? Saya ulang pidato ayah saya dulu (kh imam zarkasyi almarhum) bahwa untuk menerangkan pidato tentang Gontor ini, bagaimana mengelolanya, filosofisnya bagaimana, itu harus diterangkan ping sewu (seribu kali) biar faham, biar dimngerti, biar difahami, sudah diterangkan ping sewu sekalipun masih ada yg fahamnya 80%, 60%, bahkan ada yg 40% memahaminya. Maka pidato tentang hal ini, saya harus ulangi berkali-kali, biar kalian semua faham "

Memang benar apa yg dikatakan beliau, saya sekalipun yg keluar dari Gontor tahun 2006 baru megerti dan memahami hal yang beliau sampaikan saat ini. Saat sudah lebih 10 tahun saya tinggalkan Gontor. Itupun saya fahami cuma 70% mungkin, dan saya ceritakan kembali lewat tulisan saya itu mungkin cuma 50%, karena beda kepada siapa materi itu akan saya sampaikan.

1000 kali adalah simbol diulang berkali- kali. Jangan husnu dzan orang yg kita beri pengertian itu memahami maksud kita dengan sekali dua kali penjelasan,  meskipun  mungkin yang demikian itu ada.

 Kalau yang guru setiap hari bergelut degan dunia pesantren saja maka harus seribu kali di ulang-ulang, maka bagaimana lagi kepada wali santri dan masyarakat umum yang harus saya sampaikan dan hanya lewat sebuah tulisan??

Maka itulah jika antum menemukan lagi ada tulisan saya sepertinya dulu pernah antum baca. Saya mohon maaf, karena saya mengikuti nasehat kyai syukri, ping sewu. Apalagi dengan keterbatasan saya yang sangat lama tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana Gontor saat ini. Tentu harus berkali-kali memberi informasi tentang apa yg saya tahu tentang Gontor, itupun bisa jadi hanya 60%  saja.

Memahami Gontor, memang tidak cukup hanya membaca, mendengar dari orang, melihat aktifitas santrinya, melihat gedungnya, kalau itu yg kita lakukan maka kita baru "melihat" gontor. Memahami Gontor maka setidaknya harus pernah berkunjung, makan, tidur, mandi, dan belajar di Gontor. Merasakan bagaimana antrinya, bagaimana berdiri siang hari karena pelanggaran, melihat pergantian malam ke pagi lewat jadwal jaga malam, dan yang lain. Rasakan saja, dan suatu saat nanti antum akan merasakan rasa haru yg luar biasa pernah merasakan itu semua. Ternyata ini maunya Gontor, ternyata begini to artinya kenapa Gontor melarangnya, wah begini to kenapa dulu harus begini harus begitu, oh ternyata ini maksudnya kenapa wajib ini dan itu.... Dan banyak hal lain yg baru saya temukan diluar, di saat justru saya tidak terikat apapun lagi dengan Gontor selain saya adalah santri Gontor selamanya....

Dan bisa menceriterakan kesan antum seperti saya, yg hanya bisa mengucap terima kasih tak terhingga kepada Gontor. Meski cuma sedikit apa yang bisa saya sampaikan....

Post a Comment