Nunut Kamukten Ikut Berkahnya Gontor Oleh Oky Rachmatulloh
Table of Contents
Nunut Kamukten (Ikut berkahnya) Gontor.
By oky rachmatulloh
Hari rabu beberapa tahun yg lalu saya pergi ke Bandung, menghadiri undangan Yayasan kesehatan Telkom untuk mengisi Pengajian Ramadhan disana. Saya menginap di rumah adik saya Sofia Aini Abbas Dia dan suaminya mengelola Pesantren Baitul Hidayah, sebuah pesantren tahfidz dengan konsep Gontory di Bandung.
Kebetulan, malam Jumatnya ada acara Buka Bersama salah satu Produsesn Baju Mulsim ber-Merk di Bandung. Kamis sore itu, segenap jajaran dan petinggi produsen itu hadir di Baitul Hidayah. Sore menjelang berbuka, saya sedang berjalan-jalan menikmati suasana sejuk nya suasana yang berbalut keteduhan khasa pesantren di Atas Awan itu, ketika tiba-tiba seseorang memanggil saya...
“Ini Mas Oky ya?? Kakaknya Mbak Fia kan?”
Prosesor di otak saya bekerja keras mengenali siapa pemilik suara itu. Saya lihat dari wajahnya, saya ingat-ingat, apa mungkin saudara, kenalan, atau pernah ketemua dimana. Hasilnya?? Nihil, akal fikirian saya buntu menemukannya...
“Saya kenalan Mbak Via di Facebook, kebetulan mbak Via sering mengirim tulisan-tulisan antum di Facebook tentang Gontor. Bagus sekali mas, setiap selasa selalu saya save lalu saya kirim ke grup teman-teman saya. Saya heran, ternyata masih ada pesantren yang menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan yang tidak mungkin diterapkan diluar. Dan sekolah itu justru berbentuk pesantren (bukan SMPIT, atau sekolah Boarding School, bukan pula SMP Unggulan).
Jujur mas, saya terpana membaca tulisan –tulisan antum. Saya bangga bisa menjadi bagian dari Pesantren Alumni Gontor. Saya berharap, putera saya ini setelah pengabdian bisa meneruskan di Unida. Biar kami menjadi Bagian dari Gontor meskipun Cuma wali Mahasiawa...” Demikian kurang lebih ibu itu bercerita.
Ya Allah, hati bak dipukul palu Thor rasanya. Apa yang sya tulis selama ini di Facebook, ternyata di (berawan sesaat lagi akan turun hujan tertahan.
Saya meninggalkan Gontor 12 tahun yang lalu. Tahun 2006. Pada waktu itu pimpinan “tidak rela” alumninya keluar tanpa ada arah yang dituju. Saya diminta memilih, apakah akan meneruskan mengajar di Darunnajah Jakarta atau Daarel Qolam Gintung.
Sayapun memilih Daarel Qolam Gintung sebagai tempat saya berlabuh setelahnya. Alhamdulillah, di Gintung saya sempat meninggalkan sebuah organisasi kesenian yang saya bangun bersama anak-anak bernama TERISDA (Tater Islam Daarel Qolam). Apa yang saya dapatkan di Gontor saya teraplan di sini. Di Daarel Qolam ini....
Tahun 2008, saya berpindah haluan ke Malang. Saya melamar pekerjaan sebagai Account Officer di salah satu koperasi syariah yang didirikan oleh salah satu lembaga zakat. Saat itu, di CV saya tulisankna saya adalah alumbi Gontor, sekaligus Alumni UNIDA. Pagi saya serahkan surat lamaran saya, sorenya saya ditelfon Pimpinan Cabang Lembaga Zakat itu...
“...Antum kan Aumni Gontor, bisa bahasa Arab bahasa Inggris, bahkan Alumni ISID (Nama Unida dulu), rugi kalau Cuma jadi AO. Sudahlah, antum saya masukkan ke pendaftar Kepala Cabang Koperasi saja ya?”
Bak di Guyur Es rasanya hati ini. Saya yang tidak percya diri waktu itu, membayangkan beratnya tanggung jawab sebagai kepala cabang sebuah koperasi. Tapi saya bersyukur, gara-gara mengetahui status saya sebagai alumni Gontor, saya mendapatkan anugerah ini. Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya Allah memberi jalan dengan lewat nama besar Gontor...
Tahun 2009, ketika ada undangan Rapat Koordinasi semua Divisi lembaga zakat itu, salah satu direktur perusahaan yang didirikan Lembaga itu mendekati saya pada waktu makan pagi.
“Pak Oky, saya di ceritai sama Founding Father kita, bahwa sepanjang perjalanan ketika beliau ke Malang itu, antum yang menemani dan ajak beliau bicara bahasa Arab (Founding Father kami adalah Jebolan LIPIA). Lancar sekali. Beliau terkesan sekali dengan kelancaran antum berbahasa Arab. Antum bisa nulis proposal kan? Bisa Bahasa Inggris juga kan? Antum ke Bandung ya, jadi ketua divisi di International Networking di perusahaan kita, siap?”
Saya nyaris tidak menjawab saat itu, Cuma anggukan kepala yang saya lakukan. Kembali berkah Gontory yag saya lakukan membawa saya ke kota Bandung. Bahasa Arab kelas 5O yangbabak belur itu, yang orang Arab saja bisa jadi tidak paham, ternyata ditambahi sedikit Yahanu (pellajaran “Extra” yang saya dapat di Gontor) telah membawa saya di Posisi itu.
Ya Allah, terima kasih kau telah menyekolahkan aku di Gontor, mengenalkanku kepada dunia Gontor yang penuh dinamika dan pelajaran kehidupan yang berharga sekali ini. Sehingga apa yang saya anggap hal biasa di Gontor, ternyata menjadi hal yang luar biasa di luar.
5 tahun saya bekerja di perusahaan itu samapia akhirnya saya keluar dan kemuidan pindah ke Baznas Jawa Barat. Kebetulan ketua baznas saat ini adalah Jebolan Gontor juga, Cuma sampai kelas empat kalau saya tidak salah. Ya sudah, saya kembali diterima di Baznas tanpa test. Dan berkiprah kembali di dunia perzakatan sampai pertengahan tahun 2016.
Saat itu, ada teman alumni yang menyatakan ada pesantren baru yang membutuhkan kepala sekolah, “Gontor conection” lagi yang akhirnya kembali membawa saya ke kampung halaman di Ponorogo ini. Berkali-kali dalam cerita hidup saya, saya di tolong Allah dengan kebesaran nama Gontor.
Saya ini siapa? Cuma satu diantara ratusan ribu Alumni Gontor yang berkiprah di semua lapangan amal di Indonesia. Tapi sangat terasa sekali bahwa kebesaran nama Gontor dengan semua aktifitasnya menolong saya di luar ini. Sampai detik ini, saya di minta mengisi kajian ditelkom oleh salah seorang wali santri Gontor, saya diminta ngisi pengajian ibu2 majelis ta’lim oleh salah seroang wali santri Baitul Hidayah yang tergila-gila dengan system Gontor.
Kemarin ketika berangkat ke Bandung, saya ketemu dengan Polisi Khusus Kereta Api yang mengawal perjalanan ternyata adalah alumni Gontor juga. Di Bandung, para tamu biasanya dijamu di salah satu pemilik sea Food bernama sekar sea food yang ternyata juga Alumni Gontor. Diluar negri, dari Eropa sampai Madinah, kita tinggal telfon alumni, maka pertolongan akan mengalir kepada kita. Masya Allah..Betul-betu saya merasa ibarat sebutir debu yang menempel pada dinding masjid Gontor. Kecil sekali, tapi masih mendapat “karomah” Gontory...
Ditengah saya merenung, suara adik saya memcah sunyi pagi itu..
“Dhe (Pak Dhe, panggilannya kepada saya untuk membiasakan anak-anaknya)..Si Ibu yang punya Al*** nanya, ukuran Bajumu sama Budhe berapa? Ini mau dikirim satu set Baju sarimbitan buat berdua...”
Saya terpana..Tulisan saya tentang Gontorpun ternyata membawa Rizki yang tidak saya sangka-sangka...
By oky rachmatulloh
Hari rabu beberapa tahun yg lalu saya pergi ke Bandung, menghadiri undangan Yayasan kesehatan Telkom untuk mengisi Pengajian Ramadhan disana. Saya menginap di rumah adik saya Sofia Aini Abbas Dia dan suaminya mengelola Pesantren Baitul Hidayah, sebuah pesantren tahfidz dengan konsep Gontory di Bandung.
![]() |
| Nunut Kamukten Ikut Berkahnya Gontor Oleh Oky Rachmatulloh |
Kebetulan, malam Jumatnya ada acara Buka Bersama salah satu Produsesn Baju Mulsim ber-Merk di Bandung. Kamis sore itu, segenap jajaran dan petinggi produsen itu hadir di Baitul Hidayah. Sore menjelang berbuka, saya sedang berjalan-jalan menikmati suasana sejuk nya suasana yang berbalut keteduhan khasa pesantren di Atas Awan itu, ketika tiba-tiba seseorang memanggil saya...
“Ini Mas Oky ya?? Kakaknya Mbak Fia kan?”
Prosesor di otak saya bekerja keras mengenali siapa pemilik suara itu. Saya lihat dari wajahnya, saya ingat-ingat, apa mungkin saudara, kenalan, atau pernah ketemua dimana. Hasilnya?? Nihil, akal fikirian saya buntu menemukannya...
“Saya kenalan Mbak Via di Facebook, kebetulan mbak Via sering mengirim tulisan-tulisan antum di Facebook tentang Gontor. Bagus sekali mas, setiap selasa selalu saya save lalu saya kirim ke grup teman-teman saya. Saya heran, ternyata masih ada pesantren yang menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan yang tidak mungkin diterapkan diluar. Dan sekolah itu justru berbentuk pesantren (bukan SMPIT, atau sekolah Boarding School, bukan pula SMP Unggulan).
Jujur mas, saya terpana membaca tulisan –tulisan antum. Saya bangga bisa menjadi bagian dari Pesantren Alumni Gontor. Saya berharap, putera saya ini setelah pengabdian bisa meneruskan di Unida. Biar kami menjadi Bagian dari Gontor meskipun Cuma wali Mahasiawa...” Demikian kurang lebih ibu itu bercerita.
Ya Allah, hati bak dipukul palu Thor rasanya. Apa yang sya tulis selama ini di Facebook, ternyata di (berawan sesaat lagi akan turun hujan tertahan.
Saya meninggalkan Gontor 12 tahun yang lalu. Tahun 2006. Pada waktu itu pimpinan “tidak rela” alumninya keluar tanpa ada arah yang dituju. Saya diminta memilih, apakah akan meneruskan mengajar di Darunnajah Jakarta atau Daarel Qolam Gintung.
Sayapun memilih Daarel Qolam Gintung sebagai tempat saya berlabuh setelahnya. Alhamdulillah, di Gintung saya sempat meninggalkan sebuah organisasi kesenian yang saya bangun bersama anak-anak bernama TERISDA (Tater Islam Daarel Qolam). Apa yang saya dapatkan di Gontor saya teraplan di sini. Di Daarel Qolam ini....
Tahun 2008, saya berpindah haluan ke Malang. Saya melamar pekerjaan sebagai Account Officer di salah satu koperasi syariah yang didirikan oleh salah satu lembaga zakat. Saat itu, di CV saya tulisankna saya adalah alumbi Gontor, sekaligus Alumni UNIDA. Pagi saya serahkan surat lamaran saya, sorenya saya ditelfon Pimpinan Cabang Lembaga Zakat itu...
“...Antum kan Aumni Gontor, bisa bahasa Arab bahasa Inggris, bahkan Alumni ISID (Nama Unida dulu), rugi kalau Cuma jadi AO. Sudahlah, antum saya masukkan ke pendaftar Kepala Cabang Koperasi saja ya?”
Bak di Guyur Es rasanya hati ini. Saya yang tidak percya diri waktu itu, membayangkan beratnya tanggung jawab sebagai kepala cabang sebuah koperasi. Tapi saya bersyukur, gara-gara mengetahui status saya sebagai alumni Gontor, saya mendapatkan anugerah ini. Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya Allah memberi jalan dengan lewat nama besar Gontor...
Tahun 2009, ketika ada undangan Rapat Koordinasi semua Divisi lembaga zakat itu, salah satu direktur perusahaan yang didirikan Lembaga itu mendekati saya pada waktu makan pagi.
“Pak Oky, saya di ceritai sama Founding Father kita, bahwa sepanjang perjalanan ketika beliau ke Malang itu, antum yang menemani dan ajak beliau bicara bahasa Arab (Founding Father kami adalah Jebolan LIPIA). Lancar sekali. Beliau terkesan sekali dengan kelancaran antum berbahasa Arab. Antum bisa nulis proposal kan? Bisa Bahasa Inggris juga kan? Antum ke Bandung ya, jadi ketua divisi di International Networking di perusahaan kita, siap?”
Saya nyaris tidak menjawab saat itu, Cuma anggukan kepala yang saya lakukan. Kembali berkah Gontory yag saya lakukan membawa saya ke kota Bandung. Bahasa Arab kelas 5O yangbabak belur itu, yang orang Arab saja bisa jadi tidak paham, ternyata ditambahi sedikit Yahanu (pellajaran “Extra” yang saya dapat di Gontor) telah membawa saya di Posisi itu.
Ya Allah, terima kasih kau telah menyekolahkan aku di Gontor, mengenalkanku kepada dunia Gontor yang penuh dinamika dan pelajaran kehidupan yang berharga sekali ini. Sehingga apa yang saya anggap hal biasa di Gontor, ternyata menjadi hal yang luar biasa di luar.
5 tahun saya bekerja di perusahaan itu samapia akhirnya saya keluar dan kemuidan pindah ke Baznas Jawa Barat. Kebetulan ketua baznas saat ini adalah Jebolan Gontor juga, Cuma sampai kelas empat kalau saya tidak salah. Ya sudah, saya kembali diterima di Baznas tanpa test. Dan berkiprah kembali di dunia perzakatan sampai pertengahan tahun 2016.
Saat itu, ada teman alumni yang menyatakan ada pesantren baru yang membutuhkan kepala sekolah, “Gontor conection” lagi yang akhirnya kembali membawa saya ke kampung halaman di Ponorogo ini. Berkali-kali dalam cerita hidup saya, saya di tolong Allah dengan kebesaran nama Gontor.
Saya ini siapa? Cuma satu diantara ratusan ribu Alumni Gontor yang berkiprah di semua lapangan amal di Indonesia. Tapi sangat terasa sekali bahwa kebesaran nama Gontor dengan semua aktifitasnya menolong saya di luar ini. Sampai detik ini, saya di minta mengisi kajian ditelkom oleh salah seorang wali santri Gontor, saya diminta ngisi pengajian ibu2 majelis ta’lim oleh salah seroang wali santri Baitul Hidayah yang tergila-gila dengan system Gontor.
Kemarin ketika berangkat ke Bandung, saya ketemu dengan Polisi Khusus Kereta Api yang mengawal perjalanan ternyata adalah alumni Gontor juga. Di Bandung, para tamu biasanya dijamu di salah satu pemilik sea Food bernama sekar sea food yang ternyata juga Alumni Gontor. Diluar negri, dari Eropa sampai Madinah, kita tinggal telfon alumni, maka pertolongan akan mengalir kepada kita. Masya Allah..Betul-betu saya merasa ibarat sebutir debu yang menempel pada dinding masjid Gontor. Kecil sekali, tapi masih mendapat “karomah” Gontory...
Ditengah saya merenung, suara adik saya memcah sunyi pagi itu..
“Dhe (Pak Dhe, panggilannya kepada saya untuk membiasakan anak-anaknya)..Si Ibu yang punya Al*** nanya, ukuran Bajumu sama Budhe berapa? Ini mau dikirim satu set Baju sarimbitan buat berdua...”
Saya terpana..Tulisan saya tentang Gontorpun ternyata membawa Rizki yang tidak saya sangka-sangka...

Post a Comment