Minta Turun Kelas By Oky Rachmatulloh

Table of Contents
#Minta_turun_kelas

By Oky Rachmatulloh

Saya kemarin membaca keluhan salah seorang wali santri yg berucap orang tuanya tidak suka cucunya (anak dari si wali santri) meneruskan belajar di Gontor.

Minta Turun Kelas By Oky Rachmatulloh
Minta Turun Kelas By Oky Rachmatulloh

Alasannya satu, cucunya kelas satu dan tidak naik. Sehingga menurut beliau sudah rugi setahun usianya, buat apa lagi diteruskan belajar di Gontor.

Masya Allah, masih ada ternyata keluarga wali santri yg berfikir seperti itu. Tidak mau tau kemampuan anak atau cucunya. Apalagi meminta cucunya pindah dari Gontor dengan alasan rugi umur satu tahun. Masya Allah...

Sebagai sebuah lembaga pendidikan dengan pesantren sebagai basis utamanya. Maka Gontor itu ibarat sebuah keluarga. Kyai berperan sebagai orang tua, ada kelas 6 (Santri kelas akhir)  yg menjadi kakak tertua dan di hormati sekaligus menjadi contoh.

Ada kakak kelas lima yg menjadi kakak kedua sebagai pengasuh dan pengelola asrama, dan tentu saja ada santri yg menjadi penghuni mayoritas meliputi seluruh kehidupan pesantren.

Ada yg mungkin bertanya, kalau demikian apa yg jadi standar senioritas di Gontor itu? Apakah usia? Kedekatan dengan pimpinan? Atau apa??

Tahun Kemarin saya berbincang dengan salah seorang dosen Unida yg bercerita tentang bagaimana sistem senioritas ini dibentuk dengan paparan keikhlasan yg melingkupinya. Beliau bercerita bagaimana dulu beliau sudah lulus di pesantren Wali Songo Ngabar. Kemudian beliau melanjutkan ke Gontor dan harus mengulang lagi ujian masuk, di uji Al-quran dan menulis arab lagi, diuji doa sehari-hari lagi, pokoknya diuji dan dianggap dia belum lulus pesantren. Dianggap baru lulus sekolah dasar lagi.

Tapi beliau sama sekali tidak malu, dan bersedia mengukuti semua prosedur masuk Gontor. Termasuk ujian lanjutan langsung ke kelas enam setelah beliau diterima sebagai santri di Gontor.

Singkat cerita beliau diterima di kelas 6 langsung setelah mengikuti ujian di Gontor. Tapi kurang lebih dua bulan beliau berfikir, saya dapat apa kalau cuma setahun di Gontor??
Maka  beliau menghadap direktur KMI lalu hari itu juga menyatakan  mohon diturunkan kelasnya ke kelas 5 ! Berani !! Luar biasa berani !!

Minta turun kelas sama sekali bukan hal yg wajar di zaman sekarang. Bukan minta naik kelas, tapi minta TURUN KELAS..!! Dan sebabnya bukan karena nilai yg buruk (karena beliau lulus ujian). Tapi karena beliau merasa belum cukup ilmu masuk kelas 6 di Gontor, maka harus cari ilmu dulu biar bertambah ilmunya. Beliau tidak peduli dimakan usia atau istilahnya "tua di pondok". Karena toh tua dalam menuntut ilmu bukan sebuah kesia-siaan.
Dan ini yg saya anggap luar biasa... beliau mau dan bersedia diatur, diarahkan, diajar dan  dibina oleh para santri dan ustadz yg secara usia dibawah beliau.

Bayangkan...diatur oleh adik kelas, dididik oleh ustadz yg jelas dibawah usianya, mana ada model seperti ini di zaman sekarang?? Rela...Ikhlas...lillah...

Tapi itulah Gontor. Senioritas tidak ditentukan oleh usia, tapi oleh mana yg lebih lama mengenyam pendidikan Gontor. Karena orang yg lebih lama mengenyam pendidikan di Gontor, tentu saja lebih tahu Gontor, lebih faham Gontor, dan lebih mengerti Gontor di banding yg baru mengenal Gontor, meskipun yg baru ini secara usia lebih tua.

Keikhlasan dan kesediaan menerima berbagai hal. ini menjadi catatan penting.

Maka itu banyak santri Gontor yg lulusan SMU, jebolan perguruan tinggi, hingga lulusan perguruan tinggi yg sudah meraih gelar sarjana harus mau di "over rulled" oleh "senior"  yg secara usia bahkan jauh dibawah mereka.
Harus bersedia di arahkan, dibentak, dimarahi, dibina, oleh para junior mereka tapi di Gontor menjadi senior mereka.

Keikhlasan ini yg dibina dan dikembangkan secara turun temurun di Gontor. Ikhlas dididik, ikhlas diajar, ikhlas diatur, dalam ranah PENDIDIKAN lillah...

Ikhlas dididik ini yg menjadi senjata utama di Gontor. Sehingga hal-hal "tidak masuk akal" di luar, menjadi hal biasa di sini. Tidak naik kelas karena secara keilmuan memang belum mampu, nilai dibawah standar karena memang belum menguasai materi, meminta turun kelas karena belum menguasai sebuah ilmu, dan tunduk kepada senioritas yg lebih lama tinggal di Gontor adalah bukti nyata keikhlasan itu. Karena ilmu itu di dapat bukan sekedar karena di ajar Guru. Tapi adalah juga penghormatan kita kepada Guru (meskipun jauh lebih muda usianya).
Penghormatan dan kepatuhan kita kepada Kyai, taatnya kita kepada pengurus dimana kita belajar banyak cara mengatur darinya, dan juga tentu saja penghormatan kita kepada ilmu itu sendiri....

Post a Comment