Merasakan Kebesaran Gontor Bukan Cuma Melihat Kebesaran Gontor
Table of Contents
MERASAKAN KEBESARAN GONTOR, BUKAN CUMA MELIHAT KEBESARAN GONTOR.
By Oky Rachmatulloh
Tahun lalu, Seorang wali santri mengeluh di wall FB nya. Singkat kata dia mengeluhkan pelayanan Gontor kepada tamunya, dia mengeluhkan puteranya yg belum juga mendapat kamar di Gontor 2.
Padahal ada kelas-kelas kosong yg bisa digunakan sebagai kamar sementara . Demikian pikir sang ibu. Di lain tempat ada orang yg berfikir Gontor ini tidak bermasyarakat sekali Gontor ini, kenapa masyarakat Gontor dibiarkan kesepian di saat Gontor dua ramai luar biasa, bahkan membludak para calon santri dan walinya. Ada juga mungkin dibelahan bumi yg lain merenungi kenapa saya tidak di izinkan mengajar di Gontor, padahal saya juga alumni bahkan allumni Unida, tapi kenapa tidak diperkenankan saya mengajar di Gontor?
Alhamdulillah, mereka semua sudah melihat kebesaran Gontor, Menyaksikan kemegahan Gontor, berkira-kira macam-macam dengan perkiraan Gontor bisa melakukan semua perkiraanya itu. Cuma satu yg mungkin belum, mereka belum merasakan kebesaran Gontor. Merasakan itu jauh lebih faham dan mengerti dari sekedar melihat. Karena merasakan itu dia tahu dan mengerti. Merasakan kebesaran Gontor artinya dia melihat ada secercah kelelahan dari mata para santri yg menerima tamu, dari pramuka yg bertugas jadi juru parkir, bagian kemanan yg jarang tidur karena menjaga tamu, bagian panitia ujian masuk yg saya tahu sendiri bagaimana kesibukan mereka hingga tidak tidur bahkan, sampai bagian penerimaan tamu yg secara serius harus memikirkan makannya tamu seperti apa, takdirnya para tamu cukup atau tidak, mandinya para santri dan walinya ini cukup atau tidak, dan lain sebagainya. Perlu diingat, mereka adalah anak-anak setara kelas 3 SMU, dan mereka TIDAK PULANG merayakan Lebaran beserta keluarganya. Dan kelelahan itu sama sekali tidak dibayar sepeserpun. Memindahkan tamu ke kelas, bagian tamu itu jelas berfikir, bagaimana kemanan para tamu itu, barang-barangnya, HPnya, dompetnya, karena jika ada kasus wali santri kehilangan, jelas mereka yg akan diinterogasi bagian pengasuhan. Itulah merasakan kebesaran Gontor.
Mereka yg bertanya tentang pindahnya penerimaan santri ini ke Gontor 2, mari sejenak merasakan bagaimana perasaan Kyai Hasan melihat 3700 santri beserta walinya datang ke Gontor, padahal di Gontor sudah ada sekitar 4500 santri. Maka cobalah menjadi KH Hasan abdullah sahal, yg begitu ingin melayani tamunya dengan baik, bagaimana parkirnya, bagaimana makannya, bagaimana mencucinya, dan banyak kebutuhan lain ug harus beliau fikirkan tentang hal itu. Dan Gontor ternyata tidak sanggup melakukannya sendiri. Bayangkan, 3400 orang, jika seandianya masing-masing 50% dari wali itu membawa mobil, maka bagaimana parkir 2200 mobil itu bisa diparkir dengan nyaman. Itu belum ditambah wali santri lama, mau diletakkan dimana mereka? Pak Kyai serius memikirkan hal itu, sampai pada detik-detik penghing Ramadhan keluarlah titah beliau untuk memindahkan penerimaan santri baru. Itupun dengan tetesan air mata beliau tulus minta maaf kepada para tamu atas ketidak mampuan Gontor menerima semua tamu, karena Gontor sebenarnya ingin menerima semua tamu mempersilahkan semua tamu beristirahat, tapi apalah daya, Kemampuan Gontoremang terbatas. Jika saja sedikit kita merasakan apa yg beliau rasakan, Insya Allah tidak akan pernah ada fikiran seperti diatas.
Atau mungkin bertanya juga tentang kenapa kita tidak di izinkan mengajar di Gontor, padahal kita adalah alumni Unida. Ada kalanya kita berfikir, jadi Guru Gontor itu pertaruhannya berat, salah sekali maka Gontorlah yg akan hancur oleh kesalahan sang Guru. Maka jadi guru Gontor tidak boleh sembarangan, harus taat dan patuh kepada pimpinan, menjaga akhlaq dan sepwnuh jiwa membela Pondok, dan ini yg paling penting : Pandangan mata Kyai tentang diri kita adalah pandangan jernih. Dia tidak pernah menipu. Kyai itu diberi Ilham oleh Allah, yang menuntun, mengarahkan, dan memutuskan. Ini pandangan suci, dan tidak ada yg bisa merasakan kesucian kecuali pra santri sendiri. Maka dilarangnya seseorang untuk mengajar di Gontor bukanlah karena kebencian Kyai kepada Guru yg bersangkutan, justru pandangan kasih sayangnya untuk menempatkan Sang Guru di tempat yg semestinya.
Rasakan pandangan itu, rasakanlah kebesaran Gontor. Maka semua pandangan negatif itu Insya Allah alam sirna, berganti hormat kita kepada Kyai dan semua titahnya.
By Oky Rachmatulloh
Tahun lalu, Seorang wali santri mengeluh di wall FB nya. Singkat kata dia mengeluhkan pelayanan Gontor kepada tamunya, dia mengeluhkan puteranya yg belum juga mendapat kamar di Gontor 2.
![]() |
| Merasakan Kebesaran Gontor Bukan Cuma Melihat Kebesaran Gontor |
Padahal ada kelas-kelas kosong yg bisa digunakan sebagai kamar sementara . Demikian pikir sang ibu. Di lain tempat ada orang yg berfikir Gontor ini tidak bermasyarakat sekali Gontor ini, kenapa masyarakat Gontor dibiarkan kesepian di saat Gontor dua ramai luar biasa, bahkan membludak para calon santri dan walinya. Ada juga mungkin dibelahan bumi yg lain merenungi kenapa saya tidak di izinkan mengajar di Gontor, padahal saya juga alumni bahkan allumni Unida, tapi kenapa tidak diperkenankan saya mengajar di Gontor?
Alhamdulillah, mereka semua sudah melihat kebesaran Gontor, Menyaksikan kemegahan Gontor, berkira-kira macam-macam dengan perkiraan Gontor bisa melakukan semua perkiraanya itu. Cuma satu yg mungkin belum, mereka belum merasakan kebesaran Gontor. Merasakan itu jauh lebih faham dan mengerti dari sekedar melihat. Karena merasakan itu dia tahu dan mengerti. Merasakan kebesaran Gontor artinya dia melihat ada secercah kelelahan dari mata para santri yg menerima tamu, dari pramuka yg bertugas jadi juru parkir, bagian kemanan yg jarang tidur karena menjaga tamu, bagian panitia ujian masuk yg saya tahu sendiri bagaimana kesibukan mereka hingga tidak tidur bahkan, sampai bagian penerimaan tamu yg secara serius harus memikirkan makannya tamu seperti apa, takdirnya para tamu cukup atau tidak, mandinya para santri dan walinya ini cukup atau tidak, dan lain sebagainya. Perlu diingat, mereka adalah anak-anak setara kelas 3 SMU, dan mereka TIDAK PULANG merayakan Lebaran beserta keluarganya. Dan kelelahan itu sama sekali tidak dibayar sepeserpun. Memindahkan tamu ke kelas, bagian tamu itu jelas berfikir, bagaimana kemanan para tamu itu, barang-barangnya, HPnya, dompetnya, karena jika ada kasus wali santri kehilangan, jelas mereka yg akan diinterogasi bagian pengasuhan. Itulah merasakan kebesaran Gontor.
Mereka yg bertanya tentang pindahnya penerimaan santri ini ke Gontor 2, mari sejenak merasakan bagaimana perasaan Kyai Hasan melihat 3700 santri beserta walinya datang ke Gontor, padahal di Gontor sudah ada sekitar 4500 santri. Maka cobalah menjadi KH Hasan abdullah sahal, yg begitu ingin melayani tamunya dengan baik, bagaimana parkirnya, bagaimana makannya, bagaimana mencucinya, dan banyak kebutuhan lain ug harus beliau fikirkan tentang hal itu. Dan Gontor ternyata tidak sanggup melakukannya sendiri. Bayangkan, 3400 orang, jika seandianya masing-masing 50% dari wali itu membawa mobil, maka bagaimana parkir 2200 mobil itu bisa diparkir dengan nyaman. Itu belum ditambah wali santri lama, mau diletakkan dimana mereka? Pak Kyai serius memikirkan hal itu, sampai pada detik-detik penghing Ramadhan keluarlah titah beliau untuk memindahkan penerimaan santri baru. Itupun dengan tetesan air mata beliau tulus minta maaf kepada para tamu atas ketidak mampuan Gontor menerima semua tamu, karena Gontor sebenarnya ingin menerima semua tamu mempersilahkan semua tamu beristirahat, tapi apalah daya, Kemampuan Gontoremang terbatas. Jika saja sedikit kita merasakan apa yg beliau rasakan, Insya Allah tidak akan pernah ada fikiran seperti diatas.
Atau mungkin bertanya juga tentang kenapa kita tidak di izinkan mengajar di Gontor, padahal kita adalah alumni Unida. Ada kalanya kita berfikir, jadi Guru Gontor itu pertaruhannya berat, salah sekali maka Gontorlah yg akan hancur oleh kesalahan sang Guru. Maka jadi guru Gontor tidak boleh sembarangan, harus taat dan patuh kepada pimpinan, menjaga akhlaq dan sepwnuh jiwa membela Pondok, dan ini yg paling penting : Pandangan mata Kyai tentang diri kita adalah pandangan jernih. Dia tidak pernah menipu. Kyai itu diberi Ilham oleh Allah, yang menuntun, mengarahkan, dan memutuskan. Ini pandangan suci, dan tidak ada yg bisa merasakan kesucian kecuali pra santri sendiri. Maka dilarangnya seseorang untuk mengajar di Gontor bukanlah karena kebencian Kyai kepada Guru yg bersangkutan, justru pandangan kasih sayangnya untuk menempatkan Sang Guru di tempat yg semestinya.
Rasakan pandangan itu, rasakanlah kebesaran Gontor. Maka semua pandangan negatif itu Insya Allah alam sirna, berganti hormat kita kepada Kyai dan semua titahnya.

Post a Comment