Mengingatkan Kyai By Oky Rachmatulloh

Table of Contents
"mengingatkan" Kyai

by Oky Rachmatulloh

Entah sudah berapa kali saya sampaikan tentang hal ini di artikel saya. Tapi sebanyak itu pula ada wali santri yg menanyakan,  ada alumni bahkan yg mempertanyakan dengan semangat 45 tentang buah fikiran Kyai yg bisa jadi keliru di matanya.

Mengingatkan Kyai By Oky Rachmatulloh
Trimurti Gontor

Seakan buah fikiran Kyai lain yg itu tak terhitung banyaknya tidak punya efek sama sekali. Maka itulah saya turunkan artikel ini sebagai pertimbangan jika kita ingin "mengingatkan" pak Kyai.

Bapak/ibu sekalian,  Gontor itu adalah pesantren. Filosofi yg dibangun juga pasti filosofi pesantren, bukan filosofi sekolahan saja. Artinya kalau melihat Gontor itu jangan hanya,  sekali lagi jangan hanya dari satu sisi saja. Umpamanya sisi mata pelajaranya, itupun cuma satu mata pelajarannya. Tauhid atau fiqihnya (yg sering di goreng kesana- kemari ya dua ini) Atau hanya melihat sisi ke pengasuhannya,  itupun cuma dari sisi mudabirnya,  itupun harus saya perkecil lagi jadi mudabir keamanan,  itupun hanya keamanan Rayon saja.Padahal ada kelompok extrakurikuler, pramuka, konsulat, dan sebagainya yg semua, membutuhkan sosok mudabbir. Atau bisa jadi melihat Gontor dari sisi usahanya saja,  itupun dari usaha UKK ( toko di sebeka gedung Rabitah, utara lapangan), padahal ada Toko besi, toko buku, percetakan, konveksi, air minum, dan masih sekian banyak lagi yg lain dan semua butuh koreksi, evaluasi, perhatian dan petunjuk pak Kyai sebagai pengasuh Gontor.

Artinya sebelum "mengingatkan"  pak Kyai, ada baiknya kita berfikir juga bahwa apa yg kita ingin berikan masukan itu cuma satu hal diantara sekian hal lain yg beliau fikirkan juga. Biar kita tidak seperti anak kecil yg hari ini merengek hari ini harus ada yg kita pinta. Ada rasa berjuta sungkan untuk memberi masukan kepada beliau mengingat kita ini siapa. Dan beliau itu siapa. Urusan yg kita ingin beri masukan itu bisa jadi hanya sebutir debu diantara fikiran2 beliau yg lain. Jadi kalau bahasa saya mungkin jangan Ge Er lah dalam memberi masukan kepada pak Kyai.

Yg kedua adalah keyakinan kita bahwa Gontor adalah pesantren dalam pelaksanaanya langsung di bimbing Allah. Keyakinan ini harus terbentuk dari husnudzan kita akan keputusan Kyai. Tapi percayalah, keputusan Kyai adalah kehendak Allah. Lha kalau keputusan Kyai Gontor berbeda dengan pesantren lain? Mohon diingat, bukankah keragaman adalah sunatulloh agar kita bisa saling mengenal? Para Ulama sangat biasa berbeda satu dengan yg lain. Dan itu lumrah. Jadi jika toh berbeda maka carilah kesamaannya. Jangan dicari bedanya dimana. Maksud saya, jika yg di masalahkan adalah soal qunut misalnya, maka luhatlah wong sholat subuhnya sama-sama pagi hari, sama-sama dua rokaat, adzan  dan iqomatnya sama, lha terus bedanya kan cuma qunut yg memang ulama sepakat hukumnya sunnah. Lha banyak samanya kan? Jadi keyakinan yg sama jauh lebih banyak dari yg beda. Dan itulah kehendak Allah. Yakinlah itu sebelum memberi masukan.

Yang ketiga jika memang niat antum serius ingin memperbaiki Gontor, bukan kritik yg cuma receh yg kemudian anda besar-besarkan di media bernama fesbuk ini atau malah tujuan anda ingin menjatuhkan Gontor. Maka pilihlah waktu dan suasana yg pas bagi antuk menyampaikannya. Yang perlu antum ingat adalah antum akan serius berhadapan dengan Kyai 24.000 santri di seluruh Indonesia. Beliau sudah kenyang makan asam garam sejarah yg kita mungkin kita baru diceritai oleh orang-orang tua kita. Beliau juga sudah sepuh, ust hasan itu kira2 berusia 72 tahun, sepuh sekali. Pantas atau tidak jika memberi masukan receh kepada beliau. Jika memang harus di sampaikan, apakah bahasa yg kita akan sampaikan sudah sesuai dengan "maqam" beliau. Jika belum anda fikirkan, sebaiknya anda urungkan, karena jelas akan di hajar oleh alumni yg tidak terima kyainya direndahkan, meskipun anda sama sekali tidak bermaksud demikian.

Itulah kenapa kata "mengingatkan" saya beri tanda petik. Karena memang "mengingatkan" ini perlu sejuta keberanian diantara irisan irisan rasa sungkan yg besar kepada Kyai kami. Yang kami sangat sadar bahwa doa beliau diamini para santri itu masih menyelimuti kami Alumninya, baik yg biasa saja, yang baik atau yg kurang ajar sekalipun ikut beliau doakan, semoga ketidak tahuan para alumni itu kelak berbuah jadi yg akan memberikan kebaikan kepada Gontor suatu saat nanti. Indah nian doa pak kyai kepada alumninya ini.

Jadi masih jauhlah perjalanan kita untuk "mengingatkan" pak Kyai. Karena "maqam" kita masih jauh dan apa yg mau kita berikan masukan itu pasti sudah belau fikir masak-masak atau percayalah itu sudah atas petunjuk Allah. Yakini itu..... Karena kita di pesantren, dimana Allah mutlak campur tangan di dalamnya...

Yang selanjutnya, harus kita sadari bahwa Gontor ini punya 1001 informan yg memberi informasi kepada Pak Kyai soal berbagai hal, dari pelajaran sampai urusan bisnis pondok, bahkan sampai urusan mudabir sekalipun. Dan informasinya jauh lebih kaya, lebih komplit, lebih informatif dari perkiraan kita yg mungkin saja hanya berazas perkiraan atau bukti kecil di benak kita. Jadi masukan dari kita itu alangkah lebih baiknya jikalau kita sampaikan saja ke asatidz di sekitar beliau, untuk nanti di sampaikan kepada beliau meskipun sekali lagi saya sampaikan jangan betharap masukan anda akan merubah keputusan dengan segera. Karena beliau tentu punya fikiran lain yg bisa jadi sama dengan anda, atau sama sekali berbeda dengan anda.  Atau bisa jadi manusiawinya ustadz itu sehingga lupa menympaikannya langsung kepada pak kyai, maka antum kalau tidak sabar maka silahkankan langsung menghadap pak Kyai, dengan syarat temuilah beliau dalam kondisi, waktu, dan keadaan yg tepat. Karena kalau kurang pas, maka habislah kita di semprot pak Kyai yg memang banyak urusannya itu.

Kyai memang bukanlah nabi, rentan berbuat salah, sebagaimana manusia lain. Tapi Kyai adalah setidaknya ahlul ilmi, ini yg penting. Dan orang yg berilmu itu tidurnya saja lebih ditakuti syetan daripada orang yg sholat. Beliau adalah guru kita semua, secara nurani batin beliau sudah di jalankan oleh Allah. Maka, hati-hatilah, sebab "menasehati" Kyai itu, numani ( bikin ketagihan). Nah pas kteagihan ini lah biasanya niat kita sudah hendak berubah. Kritik mulai semaunya, bahasa sudah mulai tidak teratur, pandangan sudah mulai sombong, merasa diatas dan tahu segalanya, ujung2nya merasa berhak mengatur Gontor, maka hati-hatilah, tahu dirilah, agar masukan kita di dengarkan dan kita tetap di hargai.

Post a Comment