Idul Fitri Di Gontor Oleh Oky Rahmatulloh

Table of Contents
Idul Fitri di Gontor

by Oky rachmatulloh

Sesaat setelah udisium kelas lima yang menegangkan sebagaimana yang saya ceriterakan dulu. Alhamdulillah saya bisa naik kelas enam meskipun dengan nilai pas-pasan. Saya di Gundul sebagai syarat wajib santri kelas enam. Saya sendiri susah membayangkan gimana kalau kepala saya ini di Gundul.

Idul Fitri Di Gontor Oleh Oky Rahmatulloh
Idul Fitri Di Gontor Oleh Oky Rahmatulloh

Tapi karna ini kewajiban, bismillah saya jalankan saja. Saya juga sempat berfikir, selama menunghu kedatangan santri tanggal 15-Ramadahan sampai tanggal 5 syawwal ini, apa kegiatan kelas enam ya? Apa latihan Panggung Gembira? Atau bersih-bersih pondok terus? Ya bosan  tentu saja, begitu fikir saya waktu itu.

Saya ingat-ingat lagi lebaran dirumah, dimana tahun ini saya tidak bisa merasakanannya. Mengingat lebaran dirumah itu membuat saya hampir menangis saat itu. Saya memang orang Ponorogo, dimana orang tua bisa mengunjunhgi saya atau saya bisa sebentar pulang ke rumah kapan saja. Tapi tidak bertemu dengan suadara-saudara, bercanda dengan mereka, mengisi waktu dengan renyahnya kekeluargaan antar kita adalah sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Dan itu tidak saya rasakan tahun ini...

Beberapa hari setelah Yudisium, kami dipanggil ke Aula Pondok. Di bacakan susunan PBS (Panitia Bulan Syawwal). Saya jadi berfikir, mungkin inilah kesibukan kami di bulan syawwal. Jadi panitia PBS. Saya kebagian jadi Bagian penerimaan Tamu Putri. Kembang kempis rasanya hidung ini, tersenyum-senyum sendiri rasanya. Sebagai anak muda waktu itu, menerima tamu khusus putri tentu saja sebuah anugerah. Terbayang kalau saja nanti para santri ada yang membawa keluarga perempuannya, bisa dekat dengan mereka waaaah...begitulah pikirian “nakal” saya waktu itu. Meskipun itu masih nanti, di bulan syawwal mulainya. Sekarang Ramadhan, pasoh sepatuh perjalanan lagi.

Besok di mulailah pekerjaan besar, pembersihan pondok untuk manyabmbut tamu dan santri baru. Pondok sudah ditangan kita, begitu yang ada dalam benak kami. Total, kami membersihkan pondok, menata ulang situasi pondok yang agak “berantakan” setelah 50 hari ditinggal penghuninya. Mengecat ulang bangunan di Gontor. Membersihkan kamar mandi kampus. Membereskan sisa-sisa cor-coran bangunan gedung Rayon Indonesia Tiga (Rita) waktu itu. Itu dilakukan setengah hari full, saya kebagian mengecat Pagar Rumah ust Abbas. Gembira ria rasanya hati ini meski raga berkata lelah untuk bekerja. Karena kita terlihat lakasana taruna akmil yang membersihkan lingkunagn asrama.

Suara mobil pengangkut sampah menderu-deru memecah sunyi. Di belalangny gerobak sampah masih di laibatkan juga dalam pembersihan kampus, Maklumlah, mobil sampah yang ada cuma satu. Gerandong keramat julukannya. Yang lain ada yang mulai mengecat triplek untuk bahan Cafeteria kelas enam, ada yang menyiapkan sound sistem, ada yang mengecat gedung tingkat atas, ada yang menata ruangan, semua sibuk, tidak terbersit sedikitpun pikirian kita untuk kami pulang. Semua tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Untuk kegiatan sore harinya, kami konsulat Ponorogo Punya kegiatan Illegal, he..he...membelikan pesanan teman-teman yang pengen buka dengan lain suasana. Ada yang nitip beli sate, beli nasi goreng,  ayam goreng, atau es campur. Kami biasanya dapat bagian dari belanjaan kita itu, paling itu saja kami dapatnya. Tapi kami sangat senang sekali, karena setiap sore kami bisa buka dengan lauk berbeda-beda dan pasti enak. Ya meskipun kegiatan ini beresiko kami akan di gundul kedua kalinya.

Sampai akhirnya Idul Fitri tiba. Kami berjas rapi. Dengan sarung di terlipat Rapi dan sajadah tersampir di pundak kanan kami. Gateng-ganteng dan gagah saya melihat teman teman saya. Kami diminta takbir keliling dulu sebelum kami ke Masjid. Mekarla hidung teman-teman, karena berjas rapi dengan wajah bersih dan tampan itu berkeling kampung di hdapan masyarakat. Bagi kami para santri, bisa nampang di hadapa penduduk kampung sekalipun tentu saja sebuah hal yang kita syukuri.

Lalu dengan sedikit ilmu “Yahanu” (PD Over Dosis) kita bersuaha untuk tidak ambil peduli dengan apa komentar orang kampung dan bisik-bisik gadis remaja yang melihat kami. Padahal dalam hati kami bangganya ampun-ampunan. Lirik mata pra gadis itu ibarat lirikan Marshanda (artis yang sedang HIT zaman itu) yang lagi naksir kepada kami. Saya selalu ketawa sendiri mengingatnya...

Sampai masjid kami duduk bertakbir. Seolah lupa dengan lebaran dirumah kami khusyu mendengar Khutbah dan mengikuti Sholat Idul fitri. Kami sudah betul-betul hampir lupa kalau kami tidak lebaran dirumah, karena kesbukan di Pondok saja sudah membuat kami teler. Lalu kemudian turunlah beberapa teman kami untuk bagi-bagi uang kepada Jamaah Sholat Idul fitri. Shodaqah keluarga Pak Kyai ini kami terima dengan tawa canda di bibir kami. Uang sebesar 5000 waktu itu mengingatkan kami kepada susana di rumah ketika kami menerima uang saku juga dari saudara kami. Lalu kami akhiri dengan bersalam-salaman dengan teman-teman dalam hangatnya tawa dan senda gurau kebahagiaan kami. Alhamdulillah, idul Fitri telah tiba...

Setelah itu, kami langsung berubah pada posisi masing-masing di kepanitiaan bulan syawwal. Saya langsung berubah dengan setelah jas dan papan nama di dada, bersiap menunggu para tamu putri yang datang ke Gontor. Ternyata sejak taggal 3 syawwal para tamu putri itu sudah pada datang, meskipun kebanyakan adalah keluarga teman-teman sendiri yang memang ingin mengunjungi puteranya yang tidak pulang.

Wah, ternyata benar dugaan saya. Ada beberapa teman saya yang punya adik atau keponakan atau sepupu perempuan yang dibawa serta menjenguk. Ya tentu saja itu saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk pasang muka segar, melayani dengan baik mereka semua dengan senyuman yang seindah mungkin, sampai memberitahu mereka kapan waktu sholat dan sebagainya. Tentu saja dengan sedikit rasa “yahanu” yang tersulut di hati kami. Kami sekan-akan tidak peduli dengan perhatian mereka, padahal kita bangga juga...

“Ganteng-ganteng ya penerima
tamunya..sopan..ramah...hebat memang Gontor..”

“Wah, cekatan sekali mas-mas ini, saya salut...sudah ganteng, cekatan pula...”

“Masya Allah, masih subuh sudah bersih-bersih kamar mandi mas? Ndak malu gateng-ganteng bersihin kamar mandi? Hebat..”

“Kalau saya masih punya anak perempuan mas, saya pasti jodohin sama santri Gontor...”

Begitu para tamu menggumam..dan semua pernyataan itu kami jawab dengan pernyataan yang sama...

“Alhamdulillah ibu, tugas kami hanya melayani Ibu-ibu sekalian...semoga Ibu sekalian betah singgah di Gontor...”
Padahal hati ini bebunga-bunga luar biasa. Pokonya Yahanu, Pokonya bergaya habis, pokonya narsis, pokonya PD habis.

Bahkan Istri saya sekarang ini juga berkata hal yang sama...

“Mas, aku dulu pas lihat kamu syawalan di Gontor seneng banget mas..Kamu Ganteng sekali dengan jas dan dasi rapi dan terlihat sangat sibuk sekali..bangga sekali melihatnya, sambial berharap bisa berdirindi sampingmu sebagai Istri...Alhamdulillah, Allah kabulkan permntaanku sekarang...”

Saya menahan tawa ketika istri saya bilang itu, karena saaat istri saya datang ke Gontor utntuk syawalan dengan pak Kyai. Saya langsung pasang aksi dan wajah sibuk, lalu berjalan kesana-kemari ndak jelas tujuannya, lalu pura-pura ngobrol serius dengan teman saya, setelah itu kembali lagi ke Bapenta putri. Ya untuk cari perhatian calon Istri saya sekarang ini...ha...ha...dan itu berhasil...

Post a Comment