Gontor Dan Negeri Antah Berantah

Table of Contents
Gontor dan Negeri Antah berantah

By oky rachmatulloh

Bagi para wali santri yg mungkin baru mengenal Gontor dengan segala system yg dimiliki, mungkin akan banyak sekali pertanyaan di benak anda,  dari mulai kenapa di zaman serba on line sekarang ini pendaftaran Gontor masih manual, ujiannya juga manual, bahkan satu per satu semunya di uji manual di kelas-kelas.

Gontor Dan Negeri Antah Berantah
Gontor Dan Negeri Antah Berantah

 Bapak dan Ibu juga mungkin bertanya lagi,  di kehidupan yg serba ekonomis seperti sekarang ini,  dengan ribuan santri di seluruh kampus,  tentu Bank akan mengantri untuk mandaftar mendirikan ATM di kampus Gontor ini,  tapi kenapa di Gontor malah tidak ada satupun ATM yg bertengger di sudut Gontor. Dan juga jangan kaget jik kelak menemui sistem ujian di Gontor itu berbasis nilai murni ujian.  Jadi jangan heran jika kelak (mungkin)  akan menemui santri mendaptkan hasil raport 4,3,2, dan atau 1. Bayangkan beda jauh dengan luar bukan?  Dimana nilai akhir adalah gabungan dari nilai ujian,  nilai ulangan,  dan nilai psikomotorik lain.  Sehingga saya sebagai pengajar di pesantren di luar sering tiba pada tanya :

"Anak kok nilainya 4, ada yg 3, ada yg 2, di jari apa mereka di sekolah? " 

Gontor memang beda,  rasanya seperti hidup di alam lain jika sudah masuk di Gontor.  Tidak ada jaminan masuk Bimago (Bimbingan belajar masuk Gontor) pasti lulus. Tidak bisa lewat pintu belakang. Tidak kenal uang pelicin atau sumbangan apapun itu bentuknya yg merubah hasil ujian anaknya. Gontor juga sangat disiplin,  apapun alasanya terlambat 1 menit,  meskipun alasanya menyambut kedatangan presiden sekalipun,  tetap akan di hukum botak jika terlambat datang kepulangan ke Gontor. Kita betul-betul dibuat terpana, seakan-akan kita hidup di sebuah negeri antah berantah dengan seagala sistem yg sepertinya kuno dan jumud,  tapi ternyata malah justru disitulah kejujuran dan kedisiplinan di hargai dengan sangat baik.Ketika kita masih bergulat dengan sitem demi sistem yg kita rajut dengan Tetangga desa,  Gontor dengan santainya menunjuk Pakistan,  Singapura,  Turki,  Malaysia,  Madinah,  Maakkah, sebagai rekan seperjungan dengan segala polah  dan laju perjuangan mereka. Ketika kita barangkali masih berkutat dengan masalah khurofat dan perdukunan untuk menyelsaikan urusan kita, Gontor sudah jauh-jauh hari meninggalkan hal itu lalu datang dengan semua konsep kemodernannya.

Maka itu dengan segala apa yg dimiliki Gontor ini, ada baiknya kita memandang Gontor ini bukan dengan kacamata luar yg biasa kita pakai dan saksikan.  Tentang Musik,  Demokrasi ala Gontor,  pengusiran displin santri, Ekonomi pesantren,  kebijakan pimpinan yg lain,  tapi mengganti kacamata pandang kita dengan kacamata Gontori yg bisa jadi 180 derajat berbeda dengan kacamata dari luar yg biasanya kita gunakan.  Agara semua hal tentang ke Gontoran bisa kita cerna dengan baik dan semua kita fikirkan tentangnya bisa kita laksanakan.

Post a Comment