Batas Gontor Dan Masyarakat
Table of Contents
Batas gontor dan masyarakat
by oky rahmatulloh
Barangkali, setelah melihat Gontor dan segala aktifitasnya ada yang bertanya...
“kalau di Gontor, para santri dilarang bercampur dengan Masyarakat, dilrang menemui masyarakat, dilarang bergaul dengan masyarakat, diciptakan tembok penghalang besar antara santri dan masyarakat, lalu dimana letak pengabdian pesantren kepada masyarakat sekitarnya??”
Ada yang belum tahu, bahwa ada perbedaan sosial pendidikan antara lingkungan santri dan masyarakat. Para santri itu dididik dan dibina, diarahkan, di awasi, di bentuk karakternya, di sebuah lingkungan yang sudah di setting sedemikian rupa sehingga mampu membentuk karakter santri yang beriman, cerdas, dan bertanggung jawab.
Sistem ini diciptakan karena Gontor ibarat sebuah keluarga. Punya aturan dan tata tertib yang jelas, yang tidak bisa begitu saja di ganti oleh sembarang orang. Coba bayangkan, kalau kita punya rumah tangga, lalu tiba-tiba ada orang masuk kerumah kita lalu duduk dengan mengangkat kaki satu, merokok, membuang abu rokoknya di sembarang tempat, apa yang akan kita lakukan? Mengusir barangkali jawaban yang tepat jika kita menemui hal seperti itu...
Maka itu, masyarakat itu ibarat keluarga lain, ibarat tetangga kita, yang tentu saja mungkin berbeda cara asuh cara mendidik dan cara membentuk karakternya dengan kita.
Kalau nanti para santri di izinkan bergaul dengan masyarakat, maka yang terjadi adalah berubahnya pola pemikiran karena pola asuh yang berbeda itu. Yang terjadi adalah perselisihan dengan pesantren, karena mungkin adanya perbedaan daya penertiban di masyarakat. Padahal dengan gaya kerja seperti ini saja, yang memisahkan antara lingkungan pendidikan Gontor dan Masyarakat, pembentukan gaya pemikiran dan pendidikan berlangsung amat sulit. Bagaimana jika ini harus berbenturan dengan pola pendidikan masyarakat yang jelas berbeda dengan Gontor??
Tapi pendidikan di masyarakat kan juga penting? Tentu saja Gontor memahami itu. Ada saatnya, dimana suatu masa nanti ketika para santri sudah dewasa, sudah bisa mangatur dan mengukur, bisa menakar dan membaca, bisa menghadapi semua perbedaan dengan santun dan senyum, maka saat itulah pembelajaran dengan masyarakat di mulai. Ada yang ditigaskan di koperasi pelajar, ada yang ditugaskan sebagai bagian keamanan sehingga banyak berkomunikasi dengan masyarakat, ada yang ditugaskan sebagai bagian kantin pelajar sehingga bisa berbincang banyak dengan ibu-ibu penyetor, ada yang di bagian laundry yang berhubungan dengan masyarakat yang mencuci baju, dan yang lain yang masih banyak lagi. Kelak ketika mereka jadi Guru, maka lebih banyak lagi pendidikan kemasyarakatan yang akan merek dapatkan. Ada yang diminta jadi Khatib Jumat, Khatib Idul Fitri, Panitia Kurban, ceramah-ceramah agama di masyarakat, mendidik di madrasah, dan yang lain.
Sesuatu yang bisa saya simpulkan adalah, Gontor mengajari ilmu kemasyarakatan di sesuaikan dengan kemampuan santri bermasyarakat. Kalau santri dinilai masih belum mampu bermasyarakat, maka tentu belum layak diterjunkan ke masyarakat. Karena hal itu bukan saja merugikan santri sendiri, tapi merugikan pondok secara keseluruhan. Karena santri yang yg belum mampu bermasyarakat akan tercampur, dan tidak semua campuran di masyarakat itu baik, dan jika kepada ketidak baikkan itu santri itu cenderung kepadanya. Maka yang dikomentari pertama kali adalah pondoknya, dan tentu saja pada akhirnya adalah Kyai-Nya. Padahal belum tentu semua santri melakukan hal seperti itu.
Gontor memahami itu.....
by oky rahmatulloh
Barangkali, setelah melihat Gontor dan segala aktifitasnya ada yang bertanya...
“kalau di Gontor, para santri dilarang bercampur dengan Masyarakat, dilrang menemui masyarakat, dilarang bergaul dengan masyarakat, diciptakan tembok penghalang besar antara santri dan masyarakat, lalu dimana letak pengabdian pesantren kepada masyarakat sekitarnya??”
![]() |
| Batas Gontor Dan Masyarakat |
Ada yang belum tahu, bahwa ada perbedaan sosial pendidikan antara lingkungan santri dan masyarakat. Para santri itu dididik dan dibina, diarahkan, di awasi, di bentuk karakternya, di sebuah lingkungan yang sudah di setting sedemikian rupa sehingga mampu membentuk karakter santri yang beriman, cerdas, dan bertanggung jawab.
Sistem ini diciptakan karena Gontor ibarat sebuah keluarga. Punya aturan dan tata tertib yang jelas, yang tidak bisa begitu saja di ganti oleh sembarang orang. Coba bayangkan, kalau kita punya rumah tangga, lalu tiba-tiba ada orang masuk kerumah kita lalu duduk dengan mengangkat kaki satu, merokok, membuang abu rokoknya di sembarang tempat, apa yang akan kita lakukan? Mengusir barangkali jawaban yang tepat jika kita menemui hal seperti itu...
Maka itu, masyarakat itu ibarat keluarga lain, ibarat tetangga kita, yang tentu saja mungkin berbeda cara asuh cara mendidik dan cara membentuk karakternya dengan kita.
Kalau nanti para santri di izinkan bergaul dengan masyarakat, maka yang terjadi adalah berubahnya pola pemikiran karena pola asuh yang berbeda itu. Yang terjadi adalah perselisihan dengan pesantren, karena mungkin adanya perbedaan daya penertiban di masyarakat. Padahal dengan gaya kerja seperti ini saja, yang memisahkan antara lingkungan pendidikan Gontor dan Masyarakat, pembentukan gaya pemikiran dan pendidikan berlangsung amat sulit. Bagaimana jika ini harus berbenturan dengan pola pendidikan masyarakat yang jelas berbeda dengan Gontor??
Tapi pendidikan di masyarakat kan juga penting? Tentu saja Gontor memahami itu. Ada saatnya, dimana suatu masa nanti ketika para santri sudah dewasa, sudah bisa mangatur dan mengukur, bisa menakar dan membaca, bisa menghadapi semua perbedaan dengan santun dan senyum, maka saat itulah pembelajaran dengan masyarakat di mulai. Ada yang ditigaskan di koperasi pelajar, ada yang ditugaskan sebagai bagian keamanan sehingga banyak berkomunikasi dengan masyarakat, ada yang ditugaskan sebagai bagian kantin pelajar sehingga bisa berbincang banyak dengan ibu-ibu penyetor, ada yang di bagian laundry yang berhubungan dengan masyarakat yang mencuci baju, dan yang lain yang masih banyak lagi. Kelak ketika mereka jadi Guru, maka lebih banyak lagi pendidikan kemasyarakatan yang akan merek dapatkan. Ada yang diminta jadi Khatib Jumat, Khatib Idul Fitri, Panitia Kurban, ceramah-ceramah agama di masyarakat, mendidik di madrasah, dan yang lain.
Sesuatu yang bisa saya simpulkan adalah, Gontor mengajari ilmu kemasyarakatan di sesuaikan dengan kemampuan santri bermasyarakat. Kalau santri dinilai masih belum mampu bermasyarakat, maka tentu belum layak diterjunkan ke masyarakat. Karena hal itu bukan saja merugikan santri sendiri, tapi merugikan pondok secara keseluruhan. Karena santri yang yg belum mampu bermasyarakat akan tercampur, dan tidak semua campuran di masyarakat itu baik, dan jika kepada ketidak baikkan itu santri itu cenderung kepadanya. Maka yang dikomentari pertama kali adalah pondoknya, dan tentu saja pada akhirnya adalah Kyai-Nya. Padahal belum tentu semua santri melakukan hal seperti itu.
Gontor memahami itu.....

Post a Comment